Jejak Ratu Maxima di Kampung Batik Laweyan: Percakapan Hangat tentang Uang, Usaha, dan Harapan

ratu maxima
Ratu Maxima dari Belanda berdialog soal keuangan dengan pembatik dari Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Eny Zaqiyah, Selasa (25/11). Foto: Antara

RISKS.ID – Gurun warna di atas kain putih itu tampak sunyi. Seutas canting dengan ujung tembaga menyentuh kain, membentuk garis halus yang mengalir pelan. Di balik setiap motif, ada cerita panjang tentang kesabaran, tentang tangan yang bekerja dalam diam, dan tentang perempuan yang bertahan dengan kreativitas.

Di tengah suasana itu, Selasa siang yang biasanya biasa saja berubah menjadi hari yang tak terlupakan bagi Kampung Batik Laweyan, Kota Solo.

Bacaan Lainnya

Seorang tamu istimewa berbalut busana elegan berhenti di hadapan salah satu pembatik bernama Eny Zaqiyah. Sosok itu adalah Ratu Maxima dari Belanda, yang datang bukan untuk kemewahan, melainkan untuk berbicara tentang hal yang sangat akrab bagi para pelaku usaha kecil: keuangan.

Ratu Maxima hadir sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA). Bukan hanya menyapa atau melihat-lihat, dia mencoba ikut membatik—meskipun tangan bangsawan itu tampak kikuk ketika menahan canting.

“Terima kasih sudah mengajari membatik, tapi sepertinya saya tidak akan jadi pembatik,” ucapnya berseloroh sambil tersenyum kepada Eny. Candaan itu memecah ketegangan, membuat semua yang menyaksikan tersenyum. Ratu Maxima, yang biasanya jauh dalam balutan formalitas istana, pada siang itu terasa dekat, seperti sahabat yang sedang belajar hal baru.

Namun kunjungan itu bukan sekadar wisata batik. Di balik obrolan ringan, Ratu Maxima mulai menggali hal yang menjadi fokusnya selama bertahun-tahun: akses keuangan bagi usaha kecil. Dia bertanya soal bagaimana Eny membangun usahanya dan bagaimana peran lembaga keuangan yang mendampingi.

Lembaga itu bernama Amartha, penyedia jasa keuangan berbasis digital yang menyalurkan pendanaan untuk perempuan pelaku usaha di daerah. Dengan nada ingin tahu, sang ratu bertanya kepada Eny: sudah berapa lama dia menjadi nasabah, apa manfaatnya, bagaimana penjualan saat ramai atau ketika sepi.

Eny menjawab pelan, penuh keyakinan. “Saya sudah tiga tahun jadi nasabah Amartha. Sejak itu usaha saya jadi lebih maju,” ujar perempuan yang matanya penuh optimisme.

Menurut dia, Amartha bukan hanya memberi modal, tetapi juga membuka pintu ke pameran-pameran yang mempertemukan batiknya dengan dunia luar.

“Kami juga dapat pelanggan dari luar, kami selalu diajak pameran di berbagai tempat. Jadi kami diajarkan pemasaran juga,” tuturnya.

Yang paling mengejutkan, dia tak pernah mengalami masa sepi penjualan sejak mendapatkan pendampingan.

Batik, Perempuan, dan Kemandirian Finansial

Cerita Eny bukan satu-satunya. Di lorong-lorong Laweyan yang hangat oleh aroma malam batik, banyak perempuan seperti dia berjuang menghidupkan keluarga dari kreativitas. Mereka bekerja bukan hanya dengan canting, tetapi juga dengan harapan.

Ratu Maxima melihat itu. Perhatiannya terhadap perempuan pelaku UMKM bukan sekadar tugas diplomatik, tetapi sebuah agenda yang ia perjuangkan secara global: akses keuangan yang adil agar perempuan bisa berdiri lebih mandiri dalam roda ekonomi.

VP Public Relations Amartha, Harumi Supit, yang mendampingi Ratu Maxima menjelaskan bahwa Amartha telah bekerja sejak 2010 dengan tujuan yang jelas: memberdayakan perempuan lewat akses keuangan digital.

“Pertama dimulai dengan penyaluran pemberdayaan kerja, mulai Rp5 juta dan didampingi oleh tenaga ahli,” katanya.

Di Kampung Batik Laweyan sendiri, banyak pelaku UMKM yang tumbuh bersama program tersebut. Harumi tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

“Kami sangat berterima kasih dan ini jadi kebanggaan bagi kami bisa dipilih sebagai salah satu sore kunjungan Ratu,” ujarnya.

Baginya, kunjungan ini bukan hanya kehormatan, tetapi pengakuan terhadap perjuangan perempuan penggerak ekonomi lokal.

“Kita tahu beliau sangat peduli dengan financial health. Kami sebagai perusahaan bertujuan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan dan keberlanjutan usaha,” tambahnya.

Di Balik Kunjungan, Ada Masa Depan

Kunjungan Ratu Maxima meninggalkan jejak semangat pada kain-kain batik yang masih basah. Tangan seorang ratu mungkin tidak akan menjadi pembatik profesional, tetapi langkahnya menjadi simbol penting: bahwa ide besar tentang akses keuangan global bisa menyentuh ruang kecil bernama Laweyan.

Hari itu, batik tidak hanya bercerita tentang motif dan warna. Ia bercerita tentang masa depan perempuan yang ingin maju, tentang usaha yang ingin tumbuh tanpa rasa takut akan modal, dan tentang bagaimana keuangan yang inklusif bisa memberi lebih dari sekadar uang—memberi kesempatan.

Dan Eny, sang pembatik, kini punya kisah baru yang tersulam di antara motif pada kainnya: dia pernah mengajari seorang ratu memegang canting, dan ia telah menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bisa lahir dari tangan sederhana yang bekerja dengan penuh cinta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *