RISKS.ID – Gereja tua itu kembali bersinar pada malam Natal. Setelah berbulan-bulan tertutup pagar proyek dan sunyi dari lantunan doa, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Semarang, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Gereja Blenduk, akhirnya kembali dipenuhi jemaat.
Untuk pertama kalinya sejak proses revitalisasi rampung, ratusan umat Kristiani melaksanakan misa Natal di gereja bersejarah yang berdiri megah di jantung Kota Lama Semarang itu.
Sejak sore hari, Kamis (25/12), jemaat mulai berdatangan. Ada yang melangkah perlahan menyusuri halaman gereja, ada pula yang berhenti sejenak, menatap bangunan bercat putih dengan kubah besar berwarna tembaga kehijauan yang menjadi ciri khas Gereja Blenduk.
Wajah-wajah yang datang memancarkan rasa rindu sekaligus takjub. Bagi banyak jemaat, Natal kali ini bukan sekadar perayaan kelahiran Kristus, melainkan juga momen pulang ke rumah lama yang telah lama ditinggalkan.
Di dalam gereja, suasana terasa hangat dan khidmat. Tata lampu yang baru menyoroti detail interior tanpa menghilangkan karakter klasik bangunan cagar budaya itu. Cahaya lembut memantul di dinding dan pilar-pilar tua, menciptakan kesan sakral yang menenangkan.
Bangku-bangku gereja terisi, sementara lantunan lagu Natal menggema pelan, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan jemaat.
Pengurus Majelis Jemaat GPIB Immanuel Semarang, Immanuel Antoni menyebut, persiapan misa Natal tahun ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada satu hal yang membuatnya istimewa.
“Persiapannya seperti halnya Natal-Natal sebelumnya. Cuma memang tahun ini kan baru pindah setelah rehabilitasi, kembali ke gedung ini,” ujarnya di sela-sela pelaksanaan misa.
Selama Gereja Blenduk menjalani renovasi, jemaat GPIB Immanuel Semarang harus beribadah di tempat lain.
Gedung Borsumy, yang letaknya bersebelahan dengan gereja, menjadi rumah sementara bagi berbagai kegiatan ibadah, termasuk perayaan Natal. Meski ibadah tetap berlangsung dengan khusyuk, kerinduan untuk kembali ke Gereja Blenduk selalu terasa.
Gereja Blenduk sendiri bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan yang didirikan pada tahun 1753 oleh Portugis ini merupakan gereja tertua di Jawa Tengah dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Selama ratusan tahun, gereja ini menjadi saksi perjalanan iman, sejarah kolonial, hingga perkembangan Kota Semarang. Karena statusnya itu pula, setiap proses revitalisasi harus dilakukan dengan kehati-hatian, menjaga keaslian bentuk dan nilai historisnya.
Kesadaran akan keterbatasan ruang dan aturan keselamatan juga menjadi perhatian panitia Natal tahun ini. Untuk menampung jemaat yang tidak tertampung di dalam gereja, pihak GPIB Immanuel menyediakan tenda di halaman.
“Kami sediakan tenda di luar karena memang kita tidak bisa terlalu penuh ada di dalam. Artinya kan memang sudah ada standarnya, enggak mungkin penuh. Ada bagian-bagian tertentu yang mungkin kita kasih tempat,” kata Immanuel Antoni.
Sekitar 500 jemaat tercatat mengikuti misa Natal kali ini, jumlah yang sama dengan misa malam Natal sehari sebelumnya. Angka itu mencerminkan antusiasme jemaat untuk kembali beribadah di Gereja Blenduk setelah sekian lama.
Revitalisasi yang dilakukan membawa perubahan yang terasa, meski tidak mencolok. Immanuel Antoni mengakui, suasana gereja kini berbeda, terutama pada bagian interior.
“Yang jelas, dengan renovasi kemarin, kita lihat tambah kelihatan lebih cantik. Tambahan-tambahan interior, kalau malam lebih kelihatan banget cantiknya,” tuturnya.
Revitalisasi Gereja Blenduk dimulai pada Mei 2024 dengan anggaran APBN sebesar Rp26,2 miliar. Pekerjaan difokuskan pada perbaikan struktur kubah, menara, dan atap, serta pembaruan sistem mekanikal dan elektrikal. Fasilitas penunjang seperti CCTV, sistem audio, pendingin ruangan, alarm, hingga penataan lansekap dan fasilitas umum juga diperbarui. Seluruh proses ditargetkan rampung pada akhir 2024, dengan prinsip utama menjaga keaslian bangunan bersejarah.
Bagi jemaat seperti Yesaya, kembalinya misa Natal ke Gereja Blenduk menghadirkan perasaan haru. Ia mengaku sudah beribadah di gereja tersebut sejak kecil. Tahun lalu, ia merayakan Natal di Gedung Borsumy karena Gereja Blenduk masih direvitalisasi.
“Saya sudah ibadah di sini sejak kecil. Setelah rehabilitasi bisa dipakai, ya, senang sekali,” katanya.
Ia menyadari bahwa perubahan interior tidak bisa dilakukan secara drastis karena status gereja sebagai bangunan cagar budaya. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
“Kalau saya lihat interiornya mungkin ya, karena memang tidak boleh banyak diubah,” ujarnya sambil tersenyum.
Malam itu, doa-doa kembali dipanjatkan di bawah kubah tua Gereja Blenduk. Lonceng seolah berdenting dalam diam, menyambut jemaat yang pulang setelah penantian panjang.
Natal kali ini bukan hanya tentang terang yang datang ke dunia, tetapi juga tentang bangunan bersejarah yang kembali hidup, menjadi ruang perjumpaan iman, sejarah, dan harapan baru bagi ratusan jemaat yang memadatinya.






