Produksi Batu Bara 2025 Diproyeksi Turun, ESDM Tekan Pasokan demi Dongkrak Harga

tambang

RISKS.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan produksi batu bara nasional pada 2025 tidak akan mencapai 790 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2024 yang menembus 836 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, penurunan produksi itu merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam merespons pelemahan harga batu bara global.

Bacaan Lainnya

“Secara produksi, batu bara kita turun. Tahun kemarin sekitar 836 juta ton, tahun 2025 ini diproyeksikan tidak sampai 790 juta ton,” kata Tri dalam siaran persnya, Senin (29/12).

Tri menegaskan, tekanan tidak hanya terjadi pada harga komoditas, tetapi juga pada volume produksi batu bara. Karena itu, Kementerian ESDM secara sengaja melakukan pengendalian produksi untuk memperbaiki harga jual batu bara di pasar internasional.

Pada 2024, produksi batu bara Indonesia bahkan mencapai 117 persen dari target APBN 2024 yang ditetapkan sebesar 710 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 233 juta ton disalurkan untuk kebutuhan domestik melalui skema domestic market obligation (DMO), serta 48 juta ton dialokasikan sebagai stok batu bara nasional, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM.

Sementara itu, ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2024 tercatat mencapai 555 juta ton atau setara sekitar 33–35 persen dari total konsumsi dunia. Namun, kinerja ekspor mulai melemah pada 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor batu bara pada periode Januari–Juli 2025 turun 21,74 persen menjadi 13,82 miliar dolar AS. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor batu bara masih mencapai 17,66 miliar dolar AS.

“Kondisi harga batu bara lesu,” ujar Tri.

Tren penurunan harga juga tercermin dari Harga Batu Bara Acuan (HBA). HBA periode I Desember tercatat turun menjadi 98,26 dolar AS per ton, dari sebelumnya 102,03 dolar AS per ton pada periode II November.

Harga tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan November 2024 yang berada di level 114,43 dolar AS per ton.

Menyikapi kondisi tersebut, Tri mengingatkan pelaku usaha pertambangan agar lebih bijak dalam melakukan kegiatan eksploitasi. Dia menekankan bahwa industri pertambangan merupakan sektor yang tidak terbarukan.

“Kami harapkan pelaku usaha di dunia pertambangan ini mulai menyadari bahwa industri pertambangan ini adalah industri yang tidak terbarukan. Jadi, betul-betul harapannya apabila dilakukan penambangan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menyampaikan rencana penurunan target produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Langkah tersebut ditempuh untuk mengerek harga nikel di pasar global.

Pemangkasan target produksi, baik nikel maupun batu bara, dilakukan pemerintah untuk mengatur keseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga harga kedua komoditas strategis tersebut dapat kembali menguat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *