Dulu Dihujat, Patung Macan Putih Balongjeruk Kediri Kini Jadi Magnet Wisata

macan putih kediri
Keramaian di sekitar patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kunjang, Kabupaten Kediri. Foto: Schreenshot Dibalik Keseharian

RISKS.ID – Patung macan putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kembali menjadi perbincangan publik. Jika sebelumnya patung tersebut viral dan menuai hujatan warganet karena dinilai jauh dari bentuk macan atau harimau asli, kini keberadaannya justru membawa dampak yang tak terduga.

Lokasi patung macan putih itu berubah menjadi tujuan kunjungan warga dari berbagai daerah.

Bacaan Lainnya

Pantauan dari sejumlah unggahan media sosial menunjukkan antusiasme pengunjung yang datang silih berganti. Dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @pujiernawati60, terlihat sebuah bus berwarna merah berhenti tidak jauh dari area patung. Puluhan orang turun dari kendaraan dan langsung mengerubungi patung macan putih tersebut. Sebagian besar pengunjung memanfaatkan momen itu untuk berfoto bersama.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, membenarkan bahwa patung yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri dan Jombang itu kini ramai dikunjungi warga. Menurut dia, lonjakan kunjungan terjadi hampir sepanjang hari, mulai pagi hingga malam.

“Lokasi patung sekarang ramai hampir sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Yang datang bukan hanya warga sini, tapi juga dari luar daerah,” ujar Safi’i, dikutip dari unggahan Instagram @Kediriraya_info, Rabu (31/12).

Dia menilai, viralnya patung macan putih tersebut justru membawa dampak positif bagi Desa Balongjeruk. Selain mengangkat nama desa yang sebelumnya kurang dikenal, kehadiran wisatawan juga ikut menggerakkan roda perekonomian warga sekitar.

Sejumlah warga mulai memanfaatkan keramaian dengan berjualan makanan dan minuman di sekitar lokasi patung.

Sebelumnya, polemik mengenai bentuk patung yang disebut-sebut mirip zebra hingga tapir turut menyeret sosok pembuatnya. Seorang pria yang mengaku sebagai pembuat patung macan putih tersebut mengungkapkan bahwa dia mengerjakan patung itu seorang diri tanpa bantuan tenaga lain.

“Saya mengerjakan sendiri. Tidak bawa kuli. Sendirian,” katanya.

Dia mengaku proses pembuatan patung memakan waktu cukup lama karena keterbatasan alat dan tenaga. Selama hampir tiga pekan, dia bekerja sendirian untuk menyelesaikan patung tersebut. “(Ngerjain) sendirian. (Waktu) delapan belas hari,” sambungnya.

Terkait desain dan pewarnaan patung, dia menegaskan hanya mengikuti arahan dari pihak desa. Menurut dia, desain yang sudah diberikan tidak boleh diubah sedikit pun. “(Desain) tidak boleh diubah, Pak. Harus seperti gambar,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan bahwa motif loreng macan awalnya direncanakan berwarna kuning. Namun, atas permintaan kepala desa, warna tersebut diubah menjadi hitam putih. “Awalnya (warna) loreng kuning. Bapak Kepala Desa minta loreng hitam putih,” lanjutnya.

Viralnya patung macan putih itu ternyata membuat sang pembuat merasa tidak nyaman. Dia mengaku malu karena hasil karyanya menjadi bahan hujatan di media sosial. “Malu,” ucapnya singkat.

Bahkan, soal bayaran yang diterima juga menuai sorotan. Dia mengklaim hanya menerima upah sebesar Rp2 ribu atas pekerjaannya tersebut. “Dua ribu,” pungkasnya.

Menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang, Kepala Desa Balongjeruk Safi’i turut memberikan klarifikasi terkait pendanaan pembuatan patung. Dia menegaskan bahwa patung macan putih itu tidak dibiayai dari anggaran negara maupun dana desa.

“Seluruh biaya pembuatan patung sebesar Rp3,5 juta dan itu dari uang pribadi saya,” kata Safi’i.

Dia mengaku menginisiasi pembangunan patung tersebut secara pribadi karena ingin dana desa difokuskan untuk program lain yang dinilai lebih prioritas. Menurut dia, penggunaan dana pemerintah tetap diarahkan untuk kepentingan masyarakat, khususnya dalam mendukung program ketahanan pangan di Desa Balongjeruk.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *