Properti Indonesia Diproyeksi Tetap Tumbuh pada 2026

properti

RISKS.ID — Knight Frank Indonesia memproyeksikan sektor properti nasional masih akan mencatat pertumbuhan pada 2026, meski tidak merata di seluruh subsektor. Pertumbuhan diperkirakan terjadi terutama pada sektor industri, pergudangan, serta sejumlah segmen pendukung lainnya.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengatakan bahwa setelah melalui dinamika pasar sepanjang 2025, sektor properti memasuki 2026 dengan prospek yang lebih konstruktif.

Bacaan Lainnya

“Setelah menghadapi dinamika pasar di sepanjang tahun 2025, sektor properti nasional optimistis memasuki 2026 dengan outlook yang lebih konstruktif. Resiliensi pasar tercermin dari meningkatnya penetrasi green office buildings di tengah pasokan yang berlimpah,” ujar Willson dalam media gathering di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, transformasi sektor ritel yang mendorong peningkatan trafik konsumen serta ekspansi sektor pergudangan turut memperkuat posisi properti industri sebagai mesin pertumbuhan utama dalam lanskap properti saat ini.

Pada akhir 2025, Knight Frank Indonesia melakukan Property Outlook Survey untuk menghimpun pandangan para pemangku kepentingan terkait prospek sektor properti pada 2026. Survei ini bertujuan memetakan arah pergerakan pasar di tengah kondisi perekonomian nasional yang dinilai bergerak cukup agresif.

Hasil survei menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia pada 2026 akan diwarnai sejumlah transisi penting, seperti perubahan pola permintaan, meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan, serta fokus pada resiliensi jangka panjang.

Berdasarkan survei tersebut, sebagian besar pemangku kepentingan atau sekitar 61 persen responden menilai pertumbuhan investasi properti pada 2026 cenderung tumbuh moderat.

Meski demikian, subsektor industri dan pergudangan diperkirakan tetap menjadi segmen dengan pertumbuhan paling konsisten. Pandangan ini disampaikan oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari konsultan properti, pengembang, perbankan dan institusi keuangan, akademisi, investor, hingga perwakilan pemerintah.

Sementara itu, dari sudut pandang pengembang, tren pertumbuhan properti pada 2026 tidak hanya terjadi pada sektor pergudangan dan industri, tetapi juga mencakup hotel dan apartemen sewa.

Knight Frank juga mencatat sejumlah sektor yang dinilai memiliki daya ungkit positif terhadap pertumbuhan properti, antara lain gaya hidup (lifestyle), e-commerce, energi terbarukan, pariwisata, serta sektor makanan dan minuman (food and beverage).

Di sisi lain, para pemangku kepentingan mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi pada 2026. Beberapa di antaranya adalah potensi pelemahan daya beli masyarakat, tingginya harga tanah, serta tekanan inflasi yang dapat memengaruhi kinerja sektor properti nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *