RISKS.ID — Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung bukan sekadar penghubung antarwilayah. Jalan berkelok yang membelah perbukitan dan menghadap langsung ke Samudra Hindia itu menjadi pintu masuk menuju pengalaman wisata yang menawarkan ketenangan, keindahan, sekaligus cerita dari para pengunjungnya.
Salah satu destinasi yang kerap menjadi tujuan di sepanjang JLS adalah Pantai Gemah. Pantai di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung ini memikat dengan bentang alamnya yang terbuka.

Hamparan pasir cokelat keemasan membentang luas, berpadu dengan deretan pohon pinus dan cemara laut yang tumbuh rapat di bibir pantai. Saat angin laut bertiup, dedaunan pinus bergesekan, menghadirkan suasana sejuk yang kontras dengan panas khas pesisir.
Dari kejauhan, ombak Samudra Hindia tampak bergulung tenang. Tidak setinggi pantai selatan lainnya, ombak di Pantai Gemah relatif bersahabat di bagian bibir pantai. Air laut yang jernih memperlihatkan garis pantai yang landai, menjadikan kawasan ini aman untuk bermain air dan berjalan menyusuri pesisir.

Di beberapa sudut, batu karang muncul ke permukaan, menambah aksen alami yang memperkaya lanskap pantai.
Keindahan Pantai Gemah terasa semakin lengkap ketika matahari mulai bergerak turun. Cahaya keemasan perlahan menyapu permukaan laut, memantul di antara gelombang kecil yang datang silih berganti.

Senja di Pantai Gemah menghadirkan pemandangan langit berwarna jingga kemerahan yang menyatu dengan cakrawala Samudra Hindia, menciptakan suasana tenang yang kerap membuat pengunjung betah berlama-lama.
Bagi Agus Sulistiawan, seorang dokter asal Kota Kediri, panorama Pantai Gemah itulah yang selalu memanggilnya untuk kembali. Agus mengaku sudah mengunjungi banyak pantai di berbagai daerah di Indonesia, namun pantai-pantai di jalur selatan Jawa selalu meninggalkan kesan mendalam.
“Saya memang sangat menyukai laut. Banyak pantai sudah saya datangi bersama keluarga, tapi pantai selatan itu punya karakter kuat. Di Pantai Gemah, lautnya terasa luas dan terbuka, cocok untuk menenangkan pikiran,” ujar Direktur RSU Lirboyo itu saat ditemui di Pantai Gemah, Minggu (25/1/2026).
Menurut dia, perjalanan melalui JLS menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menikmati pantai. Sepanjang jalan, pengunjung disuguhi pemandangan perbukitan hijau yang sesekali terbuka langsung ke arah laut lepas. “Begitu sampai, capek di jalan langsung terbayar,” kata dia.

Jika Agus datang untuk menikmati bentang alam, Widhianto, mantan nakhoda kapal yang kini menjadi pengusaha, justru menemukan daya tarik Pantai Gemah dari sisi yang berbeda. Latar belakang hidup di laut membuat dia peka terhadap kualitas hasil tangkapan laut.
“Dulu saya bertahun-tahun hidup di kapal. Sekarang kalau ke pantai, yang dicari bukan ombaknya, tapi rasa ikannya,” ujar Widhianto, yang saat ini tinggal di Kota Nganjuk.
Menurut dia, Pantai Gemah memiliki keunggulan pada sajian ikan bakar. Ikan segar yang baru didaratkan nelayan diolah sederhana, lalu dibakar di atas bara dan disajikan dengan sambal khas pesisir. “Aromanya khas, rasanya segar. Makan sambil dengar suara ombak itu nikmatnya beda,” tutur dia.
Sementara itu, Pantai Gemah juga menjadi ruang jeda bagi Lilik, penyanyi dangdut berwajah manis asal Nganjuk. Di sela padatnya jadwal manggung, dia kerap mengajak teman-temannya menyusuri pantai selatan Jawa untuk menghilangkan penat.
“Kalau sudah capek, saya ke pantai. Duduk di pasir, lihat laut yang luas, rasanya kepala jadi lebih ringan,” kata Lilik.
Menurut dia, Pantai Gemah terasa nyaman karena tidak terlalu padat dan memiliki banyak ruang terbuka. Area hutan pinus memungkinkan pengunjung berteduh, bercengkerama, atau sekadar berfoto dengan latar laut yang terbentang luas.
Di balik pesonanya saat ini, Pantai Gemah menyimpan cerita panjang. Kawasan ini dulunya berupa hutan dan semak belukar yang jarang dijamah. Kehadiran Jalur Lintas Selatan menjadi titik balik yang mendorong masyarakat setempat mengelolanya sebagai destinasi wisata melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Kini, Pantai Gemah tumbuh menjadi ruang wisata sekaligus sumber penghidupan bagi warga sekitar. Warung ikan bakar, penyewaan wahana wisata, hingga jasa perahu nelayan hidup berdampingan dengan alam pesisir yang tetap dijaga.

Bagi Agus, Widi, dan Lilik, Pantai Gemah bukan sekadar tempat berlibur. Pantai ini menjadi ruang untuk menikmati laut dengan cara masing-masing, menyerap keindahan alam, menikmati rasa, atau sekadar memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sejenak. Penasaran, yuk kesana!






