OJK Prediksi Tren Penurunan Jumlah ATM Masih Berlanjut

ATM

RISKS.ID — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi tren penurunan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Indonesia masih akan berlanjut ke depan. Kondisi tersebut seiring dengan semakin masifnya adopsi teknologi digital di sektor jasa keuangan yang mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses layanan perbankan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, berkurangnya jumlah ATM pada dasarnya merupakan keputusan bisnis masing-masing bank. Namun, perkembangan teknologi informasi di bidang keuangan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah kebijakan tersebut.

Bacaan Lainnya

“Tidak tertutup kemungkinan bahwa tren penurunan jumlah ATM akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin masif, yang berdampak pada perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan dari bank,” ujar Dian dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta, Senin (26/1/2016).

Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia OJK, jumlah mesin ATM, Cash Deposit Machine (CDM), dan Cash Recycling Machine (CRM) hingga kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit. Angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173 unit.

Dengan demikian, terdapat penutupan sekitar 1.399 unit mesin ATM dalam kurun waktu satu tahun.

Dian menjelaskan, adopsi teknologi digital memungkinkan nasabah mengakses layanan perbankan kapan saja dan di mana saja tanpa bergantung pada infrastruktur fisik. Kemudahan tersebut membuat kebutuhan terhadap layanan ATM semakin berkurang.

“Semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non-tunai, maka kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin minimal,” kata Dian.

Di sisi lain, penguatan layanan digital juga dinilai mendorong efisiensi operasional perbankan. Pengurangan infrastruktur fisik dan optimalisasi proses layanan dapat menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kinerja keuangan industri perbankan.

“Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan,” ujar Dian.

Selain meningkatkan efisiensi, pemanfaatan teknologi digital juga mendorong perluasan transaksi non-tunai di masyarakat. Sistem pembayaran cashless dinilai mampu membuat aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien dan berpotensi mendorong peningkatan aktivitas perekonomian secara lebih luas.

“Sistem cashless ini dapat mendukung transaksi ekonomi yang berjalan menjadi lebih efisien, sehingga diharapkan akan lebih mendorong peningkatan aktivitas perekonomian lebih lanjut,” kata Dian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *