Integrasi-Interkoneksi dalam Pendidikan Islam Kontemporer

KRHA. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I.
KRHA. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I.. Foto: Istimewa

PENDIDIKAN Islam kontemporer berdiri di persimpangan zaman, di antara warisan kultural yang kaya dan arus perubahan global yang bergerak tanpa jeda. Dunia hari ini tidak lagi berjalan secara linear, melainkan saling berkelindan dalam jejaring pengetahuan, teknologi, budaya, serta etika.

Dalam situasi semacam ini, pendidikan Islam tidak cukup hanya bertahan pada pola lama yang menempatkan ilmu agama dan ilmu umum dalam sekat-sekat kaku. Keterpisahan tersebut justru berpotensi menjauhkan pendidikan Islam dari realitas kehidupan yang semakin kompleks.

Bacaan Lainnya

Di sinilah pentingnya menghadirkan sebuah paradigma yang mampu menjembatani, menyatukan, sekaligus mengontekstualisasikan pengetahuan keislaman dengan dinamika zaman. Paradigma integrasi interkoneksi keilmuan menjadi tawaran penting untuk menjawab kegelisahan tersebut.

Integrasi-Interkoneksi

Dalam lanskap pemikiran Islam kontemporer, gagasan Integrasi Interkoneksi Keilmuan yang dikembangkan oleh Amin Abdullah menempati posisi strategis. Paradigma ini lahir dari kesadaran filosofis bahwa realitas tidak pernah tunggal dan pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri.

Setiap disiplin membawa perspektif parsial yang membutuhkan perjumpaan dengan disiplin lain agar mendekati keutuhan makna. Pendidikan Islam, dalam konteks ini, ditantang untuk keluar dari pola pikir normatif-deduktif yang tertutup dan bergerak menuju horizon keilmuan yang dialogis.

Integrasi interkoneksi bukan sekadar penggabungan mata pelajaran agama dan mata pelajaran umum secara administratif. Paradigma ini bekerja pada level epistemologis, metodologis, dan aksiologis. Pengetahuan keagamaan tidak ditempatkan sebagai menara gading yang kebal kritik, sementara ilmu modern tidak dipuja sebagai kebenaran tunggal.

Keduanya dipertemukan dalam ruang dialektika yang saling mengoreksi sekaligus memperkaya. Dalam pada ini, pendidikan Islam menemukan kembali ruh kritisnya yang pernah mekar pada masa keemasan peradaban Islam.

Realitas pendidikan Islam saat ini masih memperlihatkan fragmentasi keilmuan yang cukup tajam. Kurikulum sering kali memisahkan antara pelajaran agama dan sains tanpa jembatan konseptual yang memadai.

Akibatnya, peserta didik tumbuh dengan kesadaran yang terbelah: religius dalam ritual, namun gamang menghadapi problem sosial dan kemanusiaan. Integrasi interkoneksi menawarkan upaya penyembuhan atas keterbelahan tersebut dengan membangun cara pandang holistik terhadap kehidupan.

Paradigma ini berangkat dari pemahaman bahwa wahyu, akal, serta realitas sosial merupakan sumber pengetahuan yang saling terkait. Pendidikan Islam tidak cukup hanya bertumpu pada teks suci secara literal, tetapi perlu membaca tanda-tanda zaman sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian, kajian fikih dapat berdialog dengan ilmu lingkungan, studi tafsir dapat berjumpa dengan sosiologi, dan teologi dapat beresonansi dengan filsafat kemanusiaan. Integrasi ini menjadikan pendidikan Islam relevan dengan konteks historisnya.

Tantangan Pendidikan Kontemporer

Dalam tantangan pendidikan kontemporer, muncul persoalan kompleks seperti krisis ekologis, ketimpangan sosial, radikalisme, dan disrupsi teknologi. Persoalan-persoalan tersebut tidak mampu dijawab oleh satu disiplin ilmu secara tunggal. Pendidikan Islam yang bertahan dalam pendekatan monodisipliner akan kesulitan merumuskan solusi yang bermakna.

Integrasi interkoneksi memungkinkan lahirnya cara berpikir lintas batas yang lebih adaptif dan solutif. Secara filosofis, integrasi interkoneksi berakar pada pandangan dunia tauhidik yang memandang realitas sebagai kesatuan. Tauhid tidak hanya dimaknai secara teologis, tetapi juga epistemologis.

Pengetahuan tidak terpisah-pisah secara dikotomis, melainkan terhubung dalam jaringan makna yang utuh. Pendidikan Islam dengan paradigma ini berfungsi sebagai proses penyadaran akan keterhubungan tersebut.

Dalam praktik pendidikan, integrasi interkoneksi menuntut perubahan cara mengajar dan belajar. Pendidik tidak lagi berperan sebagai penyampai kebenaran tunggal, melainkan sebagai fasilitator dialog pengetahuan. Peserta didik didorong untuk berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Ruang kelas menjadi laboratorium pemaknaan, bukan sekadar tempat hafalan. Transformasi ini menjadikan pendidikan Islam lebih manusiawi dan membebaskan.

Tantangan lain yang dihadapi pendidikan Islam adalah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Informasi bergerak tanpa batas, sementara nilai-nilai mudah tereduksi menjadi komoditas. Integrasi interkoneksi membantu pendidikan Islam membangun sikap selektif dan kritis terhadap arus tersebut. Pengetahuan tidak ditelan mentah-mentah, tetapi dipilah melalui kerangka etika dan spiritualitas Islam.

Paradigma ini juga menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam riset dan pengembangan keilmuan Islam. Studi Islam tidak lagi cukup berbasis teks klasik semata, tetapi perlu bersentuhan dengan data empiris dan analisis sosial. Dengan cara ini, pendidikan Islam dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak hanya normatif, tetapi juga transformatif. Keilmuan Islam kembali menjadi kekuatan yang membumi.

Ruang Dialog

Integrasi interkoneksi turut membuka ruang dialog antartradisi dan antarbudaya. Pendidikan Islam tidak berkembang dalam ruang hampa, melainkan dalam masyarakat yang majemuk (heterogen). Paradigma ini mendorong sikap terbuka terhadap perbedaan tanpa kehilangan identitas. Nilai-nilai Islam dihadirkan sebagai etika sosial yang inklusif dan berkeadaban.

Dalam konteks kelembagaan, pendidikan Islam dituntut untuk berani melakukan reformasi struktural. Kurikulum, metode evaluasi, dan budaya akademik perlu diselaraskan dengan semangat integrasi interkoneksi. Tanpa keberanian institusional, paradigma ini hanya akan berhenti sebagai wacana elit. Pendidikan Islam membutuhkan komitmen kolektif untuk bergerak maju.

Paradigma integrasi interkoneksi juga menolak klaim kebenaran absolut yang menutup ruang dialog. Pengetahuan selalu bersifat historis dan dinamis: terbuka untuk dikaji ulang. Sikap ini sejalan dengan tradisi intelektual Islam yang menjunjung tinggi ijtihad. Pendidikan Islam dengan paradigma ini tidak takut pada perbedaan pendapat, melainkan menjadikannya sebagai sumber pembelajaran.

Lebih jauh, integrasi interkoneksi menempatkan pendidikan Islam sebagai agen perubahan sosial. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjelma menjadi praksis yang membela keadilan dan kemanusiaan. Pendidikan Islam tidak hanya mencetak individu saleh secara ritual, tetapi saleh secara sosial, sebagaimana diutarakan Gus Mus. Inilah relevansi sejati pendidikan Islam di tengah krisis global.

Dalam dunia yang sarat polarisasi, pendidikan Islam membutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani jurang pemahaman. Integrasi interkoneksi menghadirkan jalan tengah antara teks dan konteks, antara iman dan rasio. Pendekatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa keberagamaan tidak bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Justru keduanya saling menguatkan.

Paradigma Amin Abdullah menegaskan bahwa stagnasi keilmuan merupakan ancaman serius bagi pendidikan Islam. Ketika pendidikan Islam menutup diri dari dialog, maka ketertinggalan menjadi keniscayaan. Integrasi interkoneksi mengajak untuk berdamai dengan kompleksitas zaman tanpa kehilangan arah nilai. Pendidikan Islam diajak untuk tumbuh bersama perubahan, bukan melawannya secara reaktif.

Dalam kerangka ini, pendidikan Islam menemukan kembali relevansinya sebagai proyek peradaban. Bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menafsirkan ulang warisan keilmuan agar selaras dengan tantangan mutakhir. Integrasi interkoneksi menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pendidikan Islam tidak terjebak nostalgia-romantisme, tetapi bergerak visioner-futuristik.

Kesadaran integratif ini juga membentuk etos keilmuan yang rendah hati. Setiap disiplin diakui keterbatasannya dan membutuhkan kontribusi disiplin lain. Pendidikan Islam dengan semangat ini menghindari sikap eksklusif dan triumphalist. Pengetahuan dipandang sebagai amanah bersama yang harus dikelola secara etis.

Integrasi interkoneksi keilmuan bukan sekadar strategi akademik, melainkan pilihan filosofis. Pilihan untuk memandang dunia sebagai jejaring makna yang saling terhubung. Pendidikan Islam yang mengadopsi paradigma ini memiliki peluang besar untuk tetap relevan dan berdaya saing. Dalam arus zaman yang terus berubah, integrasi interkoneksi menjadi kompas agar pendidikan Islam tidak kehilangan arah, sekaligus tidak tertinggal dari tuntutan sejarah.

 

Oleh: KRHA. Dr. Dimas Indianto S., M.Pd.I.
Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto. Saat ini menjabat sebagai Pengageng Kapujanggan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *