Produksi Jagung NTB 2025 Turun 2,86 Persen akibat Penyusutan Luas Panen

jagung
Petani sedang memanen jagung. Foto: DA Press Official

RISKS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jagung di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 mengalami penurunan sebesar 2,86 persen dibandingkan capaian produksi tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya luas panen jagung di wilayah tersebut.

Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB Muhammad Ahyar mengatakan, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 tercatat sebanyak 1,18 juta ton. Sementara itu, pada 2024 produksi jagung mencapai 1,21 juta ton.

Bacaan Lainnya

“Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 sebanyak 1,18 juta ton, sedangkan produksi tahun 2024 mencapai 1,21 juta ton,” kata Ahyar di Mataram, Selasa (3/2/2026).

Ahyar menjelaskan, tingginya curah hujan sepanjang 2025 berkorelasi dengan penyusutan luas panen jagung di NTB. Fenomena cuaca La Nina menyebabkan musim kemarau yang seharusnya minim hujan justru menjadi basah.

Kondisi tersebut dinilai lebih mendukung untuk menanam padi dibandingkan jagung, sehingga sebagian petani mengalihkan lahannya.

Berdasarkan data BPS, luas panen jagung pipilan pada 2025 tercatat sebesar 173,09 ribu hektare. Angka tersebut turun 0,67 ribu hektare atau 0,39 persen dibandingkan luas panen pada 2024 yang mencapai 173,76 ribu hektare.

“Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya luas panen jagung sekitar 672 hektare karena cuaca lebih mendukung untuk menanam padi. Akibatnya, sebagian lahan yang sebelumnya ditanami jagung dialihfungsikan untuk tanaman padi,” ujar Ahyar.

Selain luas panen, produktivitas jagung juga mengalami penurunan akibat curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Ahyar, karakteristik tanaman jagung yang tidak membutuhkan banyak air membuat curah hujan berlebih justru berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman.

Curah hujan tinggi dapat menyebabkan tanaman jagung tumbuh kerdil sehingga hasil panen menjadi tidak optimal.

Meski demikian, BPS NTB memperkirakan potensi produksi jagung pada awal 2026 masih cukup besar. Potensi luas panen jagung pipilan kering pada periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 80,93 ribu hektare.

“Dengan luas panen tersebut, potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 0,56 juta ton,” kata Ahyar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *