RISKS.ID – Tak banyak orang yang tahu, jika Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, merupakan surganya botok, makanan khas yang dibungkus daun pisang sebagai teman makan nasi. Selain soto, Ngadiluwih yang berada di antara Kota Kediri dan Tulungagung, menawarkan sesuatu yang berbeda.
Beberapa warung botok yang cukup terkenal di Ngadiluwih, diantaranya Warung Iwak Wader. Warung ini adalah warung legendaris pinggir Sungai Brantas yang sudah menjadi favorit warga dan pelancong kuliner.
Selain terkenal dengan olahan ikan wader, warung ini juga menyediakan berbagai varian botok seperti botok wader, botok patin, botok lele, hingga botok kuthuk—semuanya dengan harga sangat terjangkau dan cita rasa khas desa Jawa Timur.
Kemudian Warung Botok Bu Elli. Warung kecil sederhana namun memiliki reputasi baik di kalangan penikmat botok. Menu botok di sini disajikan dengan pilihan isi yang beragam dan rasa yang autentik, cocok untuk santap siang atau makan berat yang ringan. Rating tinggi menunjukkan kepuasan banyak pengunjung terhadap rasa dan pelayanan.
Warung Nasi Botok Mbak Fetris juga jangan dilewatkan. Tempat makan dengan rating sempurna yang populer karena botok dan menu nasi rumahan lainnya. Cocok bagi mereka yang ingin mencicip botok langsung di warung lokal dengan suasana yang tenang dan harga bersahabat.
Kemudian Warung Bothok Bu Misiyah. Walaupun sedikit berada di luar pusat Ngadiluwih, warung ini terkenal dengan botok tradisionalnya yang otentik. Banyak pengunjung yang datang dari luar desa sekadar untuk menikmati botok rumahan yang rasa dan porsinya memuaskan.
Di beberapa warung sederhana sepanjang desa Ngadiluwih, botok sering kali disajikan sebagai bagian dari menu nasi pecel atau lauk pendamping, selain olahan ikan lokal dan sayuran.
Selain ketiga tempat di atas, warung-warung kecil di pasar tradisional Ngadiluwih juga sering menjual botok dengan berbagai isian sesuai musim dan selera lokal.
Bagi Kusumaningratri, botok bukan sekadar lauk. Perempuan yang lahir dan besar di Tulungagung itu kini menetap di Swiss, menjalani kehidupan jauh dari tanah kelahirannya. Namun setiap kali pulang ke Indonesia, satu ritual tak pernah ia lewatkan: menyantap botok, terutama botok tawon, di warung langganannya di wilayah Ngadiluwih.
“Di Swiss semuanya rapi, bersih, dan serba terukur. Tapi rasa botok ini tidak bisa digantikan apa pun,” ujar Kusumaningratri saat ditemui di sela kunjungannya ke Jawa Timur. “Begitu daun pisangnya dibuka, aromanya langsung membawa saya pulang.”
Botok adalah makanan tradisional Jawa berbahan dasar kelapa parut yang dibumbui rempah, lalu dicampur aneka isian dan dikukus dalam balutan daun pisang. Di Ngadiluwih, botok berkembang menjadi beragam varian, dari yang sederhana hingga yang tergolong ekstrem bagi sebagian orang.
Salah satunya botok tawon, menggunakan larva lebah sebagai isian utama. Bagi Kusumaningratri, justru varian inilah yang paling ia cari.
“Rasanya gurih, sedikit manis, dan teksturnya lembut. Di luar negeri, makanan eksotis itu mahal dan sering diolah berlebihan. Di sini, semuanya alami,” katanya.
Menurutnya, botok mencerminkan cara orang desa menghargai alam. Tidak ada bahan yang terbuang. Ampas kelapa, hasil kebun, hingga protein lokal diolah dengan sederhana namun penuh cita rasa.
Cerita berbeda datang dari Endriarto Sutarto. Bersama istrinya, Sri Lestari, Endri sudah puluhan tahun menjadikan botok sebagai menu favorit. Setiap kali singgah di Ngadiluwih atau wilayah sekitarnya, mereka hampir selalu memesan dua jenis botok: botok mlanding dan botok ikan gabus.
“Kalau saya tidak bisa memilih satu,” ujar Endri sambil tertawa. “Harus dua. Botok mlanding dan botok kutuk.”
Botok mlanding, yang menggunakan biji lamtoro sebagai isian, menawarkan rasa khas—sedikit pahit namun legit ketika berpadu dengan kelapa dan bumbu. Sementara botok ikan gabus atau kutuk memberikan rasa gurih yang lebih kuat, dengan tekstur daging ikan yang padat.
“Kombinasinya pas. Yang satu ringan, yang satu kuat rasanya,” tambah Sri Lestari. “Makan botok itu rasanya seperti makan masakan rumah sendiri.”
Di Ngadiluwih, botok tidak hadir sebagai hidangan mewah. Ia disajikan di warung-warung sederhana, di pasar desa, atau di meja makan rumah warga. Justru di sanalah kekuatannya.
Warung langganan Kusumaningratri, misalnya, tak memiliki papan nama mencolok. Namun setiap pagi, kukusan besar berisi botok sudah siap menyambut pembeli. Uap panas bercampur aroma daun pisang menjadi penanda bahwa hidangan tradisi itu masih hidup.
Bagi Endri dan Sri, makan botok juga menjadi momen kebersamaan. Duduk berdampingan, membuka bungkusan daun pisang, lalu menyantapnya dengan nasi hangat dan sambal sederhana.
“Bukan cuma makanannya,” kata Endri. “Suasananya yang bikin betah.”
Warisan yang Terus Dicari
Di tengah gempuran kuliner modern, botok Ngadiluwih tetap bertahan. Ia mungkin tak tampil di etalase kaca atau dikemas dengan nama asing, tetapi justru karena kesederhanaannya, makanan ini terus dicari.
Bagi perantau seperti Kusumaningratri, botok adalah jembatan kenangan. Bagi pasangan seperti Endriarto Sutarto dan Sri Lestari, ia adalah bagian dari rutinitas dan rasa syukur.
“Pelanggan kami tidak hanya warga sekitar sini, namun para perantau banyak yang membeli botok di warung kami saat mereka pulang kampung,” kata Mbak Lik, penjual botok di Ngadiluwih.
Menurutnya, libur Ramadan dan Lebaran momen mencari cuan. Karena banyak perantau asal Ngadiluwih yang pulang kampung. Di momen ini, Mbak Lik biasanya menambah porsi jualan botoknya.
“Yang banyak dicari adalah botok tawon. Rasanya yang unik, orang selalu nambah kalau makan,” kata Mbak Lik.
Di Ngadiluwih, botok bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita tentang rumah, tentang pulang, dan tentang bagaimana tradisi tetap hidup di antara daun pisang dan kepulan uap kukusan.
Bagi masyarakat pedesaan seperti Ngadiluwih, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga hubungan sosial dan tradisi. Botok, yang sering dimasak di rumah-rumah ataupun dijual di pasar desa, mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam dan berbagi bahan makanan yang sederhana namun memuaskan.
Selain botok, Ngadiluwih juga dikenal dengan aneka kuliner tradisional lain seperti lalapan ikan wader yang jadi favorit warung pinggir Sungai Brantas serta jajanan pasar di lokasi seperti Kuliner Sor Pring.






