RISKS.ID – Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto mendorong pemerintah memperluas capaian swasembada pangan nasional. Menurut dia, swasembada tidak hanya terbatas pada beras dan jagung, tetapi juga perlu mencakup komoditas strategis lain, seperti bawang putih dan kedelai.
“Saya mendorong untuk swasembada bawang putih sama kedelai,” kata Titiek saat ditemui usai menghadiri Talkshow Panen Fest 2026 di Jakarta, Sabtu (8/2/2026).
Titiek berharap ke depan Indonesia mampu mencapai swasembada gula, garam, kedelai, bawang putih, serta berbagai jenis bawang yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Dia menilai penguatan produksi dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor pangan.
Menurut dia, dengan produksi nasional yang kuat, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan dan merata dari hasil pertanian dalam negeri.
Titiek menekankan, upaya mengurangi impor kedelai harus dimulai dari peningkatan penanaman di dalam negeri. Dengan begitu, pasokan bahan baku pangan seperti tempe dapat dipenuhi dari hasil produksi petani Indonesia.
Dia juga menegaskan pengalaman kegagalan dalam budi daya kedelai tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, kegagalan tersebut harus menjadi pelajaran agar penanaman terus diulang dan diperbaiki melalui pendampingan serta penelitian.
“Kalau pernah gagal, jangan gagal terus berhenti, harus diulang lagi. Kita banyak akademisi dari universitas yang bisa menemukan. Enggak perlu kita bibit impor, yang lokal saja, karena sesuai dengan iklim Indonesia,” ujar Titiek.
Dia menyebutkan, banyak akademisi dari berbagai universitas telah meneliti dan menemukan bibit kedelai unggul yang sesuai dengan kondisi iklim Indonesia. Karena itu, ketergantungan terhadap bibit impor dinilai tidak selalu diperlukan.
Titiek menilai penelitian memiliki peran penting untuk menjawab berbagai tantangan budi daya, termasuk perbedaan karakteristik tanah di setiap daerah. Dengan dukungan riset yang kuat, produksi kedelai nasional diharapkan dapat meningkat secara bertahap dan berkelanjutan.
Terkait target waktu swasembada komoditas selain beras, Titiek berharap pencapaiannya dapat dilakukan secepat mungkin, terutama untuk bawang putih dan kedelai yang tingkat impornya masih tergolong tinggi.
Dia menegaskan, percepatan swasembada pangan harus diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat melalui peningkatan produksi dalam negeri, penguatan penelitian, serta kerja sama antara pemerintah, petani, dan kalangan akademisi.
“Terutama bawang putih ya, impornya banyak sekali. Yang menikmati impor-impor itu sudah kebanyakan. Jadi sekarang kita benar-benar harus kerja untuk rakyat,” kata Titiek.
Sebagai informasi, Indonesia telah mencapai swasembada beras pada 2025. Capaian tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).
Pada tahun tersebut, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri tanpa melakukan impor.






