Pakar IPB Bilang Jerami Berpotensi Jadi Bahan Bakar Hidrokarbon Pengganti Fosil

pertamax
Petugas mengisi Pertamax ke sebuah mobil di SPBU. Foto: Pertamina

RISKS.ID – Jerami tidak hanya bisa dijadikan pakan ternak atau kompos. Limbah pertanian ini berpotensi diolah menjadi bahan bakar alternatif. Hal itu ditegaskan pakar sekaligus pengajar Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr. Leopold Oscar Nelwan.

Dalam keterangan resmi kampus IPB, Jumat (21/11), Leopold menjelaskan jerami dapat diproses sebagai biomassa lignoselulosa yang kemudian dikonversi menjadi bahan bakar hidrokarbon. “Bahan bakar yang dimaksud adalah hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel. Hanya hidrokarbon yang memenuhi standar komersial jika dipasarkan secara murni untuk mesin,” ujar Leopold.

Bacaan Lainnya

Jadi Bensin hingga Solar

Hidrokarbon sendiri merupakan senyawa yang tersusun dari karbon dan hidrogen, dengan klasifikasi paraffin, isoparaffin, olefin, hingga aromatik. Jumlah atom karbon pada senyawa tersebut menentukan penggunaan bahan bakarnya. Misalnya, bensin berada pada rentang C5–C12, sementara solar berada pada rentang C12–C20.

Menurut Leopold, ada banyak jalur konversi biomassa menjadi hidrokarbon. Namun, sebagian besar masih berada pada tahap riset. Beberapa metode yang mulai berkembang adalah proses termokimia seperti gasifikasi yang dilanjutkan dengan sintesis Fischer–Tropsch (FT), serta pirolisis cepat yang menghasilkan bio-oil melalui proses hydrotreating.

Selain itu, ada proses konversi lewat hidrolisis monosakarida, baik melalui direct sugar to hydrocarbon conversion (DSHC) maupun alcohol to hydrocarbon dari etanol.

“Dari seluruh proses tersebut, yang paling mendekati tahap komersialisasi adalah gasifikasi dan FT karena prinsipnya sudah diterapkan pada konversi batu bara,” jelasnya.

Meski menjanjikan sebagai sumber energi berkelanjutan, Leopold mengungkapkan bahwa konversi jerami menjadi bahan bakar hidrokarbon masih menghadapi tantangan besar. Teknologi tersebut membutuhkan katalis khusus serta operasi pada suhu dan tekanan tinggi.

Biaya produksinya pun tak murah. Beberapa literatur yang ia kutip menyebutkan biaya menghasilkan satu liter bahan bakar dari proses FT berbasis batu bara mencapai 0,8–1,6 dolar AS. Bahkan, biaya prosesnya bisa lebih dari empat kali lipat harga batu bara itu sendiri.

“Teknologi biofuel generasi kedua ini mendukung keberlanjutan. Namun, penerapannya masih terbatas karena investasi dan biaya proses yang tinggi,” ujarnya.

Meski begitu, peluang pemanfaatan jerami sebagai energi alternatif bukan mustahil. Teknologi tersebut akan semakin layak jika harga bahan bakar fosil meningkat atau penggunaannya mulai dibatasi oleh regulasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *