RISKS.ID – Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono menilai kondisi fundamental domestik Indonesia masih cukup kuat di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Adhitya, Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi yang solid, salah satunya tercermin dari posisi cadangan devisa yang relatif tinggi.
“Penting untuk menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki bantalan yang kuat. Per akhir Desember 2025, cadangan devisa tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara sekitar 6,4 bulan impor,” kata Adhitya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (17/1/2026).
Ia menilai capaian tersebut memberikan ruang yang cukup bagi otoritas untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing sekaligus mempertahankan kepercayaan investor.
Dari sisi stabilitas harga, Adhitya mencatat inflasi tahunan pada Desember 2025 berada di level 2,92 persen (year on year/yoy). Angka tersebut menunjukkan inflasi masih relatif terkendali, meskipun pelemahan nilai tukar tetap perlu diantisipasi melalui pengelolaan ekspektasi inflasi dan dampak kenaikan harga barang impor.
“Stabilitas harga masih relatif terjaga, walaupun pelemahan kurs harus tetap diantisipasi,” ujarnya.
Adhitya juga menyoroti kinerja sektor eksternal Indonesia yang dinilai masih solid. Indonesia tercatat mengalami surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus perdagangan periode Januari–November 2025 terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus 56,15 miliar dolar AS, meskipun sektor migas masih mengalami defisit sebesar 17,61 miliar dolar AS.
“Kondisi ini menguatkan narasi bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen dan siklus global, bukan karena melemahnya fundamental devisa secara struktural,” tutur Adhitya.
Ia menegaskan, peran pemerintah dalam merespons pelemahan nilai tukar tidak cukup hanya dengan pernyataan optimistis. Pemerintah perlu memperkuat faktor-faktor fundamental yang menjadi jangkar kepercayaan pasar.
“Pemerintah jangan hanya menjadi pemadam kebakaran. Kuncinya bukan sekadar statement optimistis, tetapi memperkuat kredibilitas fiskal, pasokan devisa di dalam negeri, serta kepastian iklim usaha,” katanya.
Menurut Adhitya, pasar memandang kebijakan fiskal dan pembiayaan negara sebagai penentu utama kepercayaan. Jika faktor tersebut kuat, tekanan terhadap nilai tukar umumnya akan lebih cepat mereda.
Adhitya juga menanggapi tren pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut perlu dibaca secara kontekstual dan tidak reaktif.
“Nilai tukar bukan indikator tunggal kesehatan ekonomi. Kurs mencerminkan interaksi faktor global, fundamental domestik, dan ekspektasi pasar,” ucap dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan level, melainkan sinyal bahwa pasar tengah menilai ulang risiko, likuiditas dolar, dan arah kebijakan ekonomi ke depan.
“Fokus kebijakan seharusnya bukan mengejar angka tertentu, tetapi menjaga stabilitas agar pelemahan tidak berubah menjadi volatilitas yang merusak,” ujarnya.
Menurut Adhitya, volatilitas nilai tukar jauh lebih berbahaya dibandingkan pelemahan yang terukur karena dapat memicu tekanan inflasi, menekan investasi, dan mengganggu dunia usaha.
“Volatilitas kurs bisa mengganggu perencanaan impor bahan baku, meningkatkan biaya lindung nilai, dan membuat investor menunda keputusan,” katanya.






