Danantara Gandeng Perusahaan PIF Arab Saudi, Investasi Layanan Haji Mulai Digarap Serius

danantara
Danantara Indonesia menjajaki kerja sama strategis dengan Rua Al Madinah Holding dalam rangka mengeksplorasi peluang investasi terhadap pengembangan proyek Rua Al Madinah dan Dar Al Hijrah di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (11/02/2026). Foto: Danantara

RISKS.ID — Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) mulai tancap gas menjajaki kerja sama strategis dengan Rua Al Madinah Holding, perusahaan yang berada di bawah bendera Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi.

Kerja sama ini difokuskan untuk mengeksplorasi peluang investasi pengembangan proyek Rua Al Madinah dan Dar Al Hijrah, kawasan yang erat kaitannya dengan layanan jemaah haji dan umrah.

Bacaan Lainnya

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan dalam rangkaian PIF Private Sector Forum 2026 yang digelar pada 9–10 Februari 2026 di Riyadh, Arab Saudi. Forum ini menjadi panggung pertemuan investor global sekaligus ajang diplomasi ekonomi kelas atas.

Managing Director Finance Danantara Investment Management Djamal Attamimi mengatakan, penjajakan kerja sama ini bukan proyek jangka pendek, melainkan upaya membangun fondasi layanan haji Indonesia secara berkelanjutan.

“Kerja sama dengan Rua Al Madinah Holding menjadi bagian penting dari upaya kami membangun fondasi layanan haji jangka panjang. Ini bukan sekadar proyek, tetapi sebuah national endeavor untuk memastikan kualitas layanan jemaah Indonesia terus meningkat, terintegrasi, dan berkelanjutan lintas generasi,” kata Djamal dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Dia menegaskan, kemitraan ini menjadi langkah strategis agar layanan haji Indonesia tidak jalan di tempat, tetapi berkembang mengikuti standar global. Selama ini, kualitas layanan jemaah kerap menjadi sorotan publik, terutama mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia.

Menurut Djamal, pengembangan Kompleks Haji diarahkan sebagai ekosistem layanan terpadu yang tidak hanya mencakup aspek ibadah, tetapi juga kesehatan, perlindungan, pendampingan, hingga dukungan operasional, dengan jemaah sebagai pusat dari setiap perencanaan.

“Kami melihat pengembangan ini sebagai tanggung jawab jangka panjang. Danantara Indonesia hadir sebagai katalisator untuk memastikan infrastruktur dan layanan jemaah dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi keberlanjutan,” ujar dia.

Dari pihak Arab Saudi, Rua Al Madinah Holding menyambut positif kolaborasi tersebut. Chairman Rua Al Madinah Holding Naif Al Hamdan menyebut kemitraan ini sejalan dengan upaya PIF memperluas kerja sama investasi internasional, khususnya di sektor pengembangan kawasan Madinah.

“Penandatanganan MoU di Forum ini mencerminkan komitmen kami untuk memperkuat kemitraan strategis, membuka peluang investasi bagi sektor swasta domestik, regional, maupun global,” ujar Naif Al Hamdan.

Chief Executive Officer Rua Al Madinah Holding Ahmed Al Juhani menambahkan, kerja sama dengan Danantara menjadi langkah penting untuk memperluas kemitraan investasi sekaligus meningkatkan integrasi antara aspek investasi dan operasional dalam proyek-proyek pengembangan yang sedang digarap.

Rua Al Madinah Holding sendiri merupakan salah satu perusahaan PIF di sektor pengembangan properti dan investasi, yang tengah mengembangkan berbagai proyek strategis di Madinah untuk mendukung jutaan jemaah dan pengunjung, sejalan dengan Pilgrims Experience Program Arab Saudi.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini dinilai krusial. Selain memperkuat posisi strategis Indonesia di mata otoritas Arab Saudi, kerja sama ini juga diharapkan mampu menjawab kritik lama soal kualitas layanan jemaah haji.

Danantara menilai, kerja sama ini bukan hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi investasi sosial dan institusional jangka panjang.

“Kepercayaan publik dan jemaah adalah fondasi utama. Karena itu, setiap pengembangan kami arahkan untuk memastikan layanan yang lebih baik, tata kelola yang kuat, serta manfaat nyata bagi jemaah Indonesia dalam jangka panjang,” kata Djamal.

Publik kini menunggu, apakah kerja sama strategis ini benar-benar membawa perubahan nyata bagi jemaah, atau hanya berhenti sebagai kesepakatan elite di atas kertas.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *