RISKS.ID – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meyakini perekonomian nasional pada 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.
Head of Sectoral Policy, Public Policy Division Apindo Ajib Hamdani mengatakan optimisme tersebut muncul setelah 2025 menjadi fase transisi akibat perpindahan episentrum politik dan ekonomi, yang membuat sebagian pelaku usaha bersikap wait and see.
“Kita cukup confident bahwa 2026 ini relatif akan lebih bagus daripada 2025. Tahun lalu memang ada perpindahan epicentrum dalam konteks politik maupun ekonomi sehingga secara alamiah teman-teman pengusaha cenderung wait and see,” kata Ajib di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam mengambil keputusan investasi, pelaku usaha mempertimbangkan dua faktor utama, yakni kepastian kebijakan serta tingkat imbal hasil.
Menurut dia, dari sisi imbal hasil ekonomi, Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar.
“Pertanyaannya adalah bagaimana certainty-nya, bagaimana kepastian hukumnya, bagaimana transparansinya. Itu yang menjadi pekerjaan rumah besar,” ujarnya.
Apindo mencatat sekitar 40 persen pengusaha pada 2025 belum melakukan ekspansi usaha. Kondisi tersebut dipengaruhi ketidakpastian kebijakan serta permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi.
Di sisi lain, Ajib menilai likuiditas perbankan masih cukup longgar. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 87 persen, masih di bawah ambang 90 persen, yang menunjukkan ruang pembiayaan masih tersedia.
Bahkan, dengan tambahan likuiditas sekitar Rp 200 triliun yang dikucurkan pemerintah, kapasitas perbankan dinilai tetap memadai.
“Pertanyaannya adalah bagaimana dengan demand-nya. Memang problem kita sementara di demand,” ucapnya.
Karena itu, Apindo menekankan pentingnya mendorong sektor riil melalui kebijakan fiskal dan insentif yang tepat sasaran guna memperkuat penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan daya beli masyarakat.
Dengan berbagai faktor tersebut, Apindo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen. Proyeksi ini lebih konservatif dibandingkan target pemerintah yang sebesar 6 persen.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy), yang masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Dari sisi pengeluaran, kontribusi kedua komponen tersebut secara akumulatif mencapai 82,65 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
BPS juga mencatat PDB atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 13.580,5 triliun, sementara PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 23.821,1 triliun. Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,62 persen.






