RISKS.ID — Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik ketika satu per satu rombongan pelajar berdatangan ke Complang Park, Kelurahan Purworejo, Kecamatan Kandat, Minggu (30/11/2025). Suara kecipak air berbaur dengan teriakan pelatih, riuh para pendukung, dan langkah gugup anak-anak yang memeluk papan renang masing-masing.
Sebanyak 220 atlet muda dari seluruh Karesidenan Kediri berkumpul dalam satu tujuan: membuktikan diri di Kejuaraan Renang Antar Pelajar se-Karesidenan Kediri Amaratama 2025. Bagi sebagian dari mereka, ini bukan sekadar lomba—tetapi panggung pertama tempat mimpi-mimpi olahraga itu diuji.
Mencari Generasi Baru, Menjaga Tradisi Emas
Di balik kekompakan panitia dan semarak kompetisi, ada hasrat mendalam tentang masa depan akuatik Kediri. Hasrat itu datang dari Didit Presijanto, Ketua Akuatik Kabupaten Kediri beserta seluruh pengurus yang juga menjadi motor penyelenggaraan kejuaraan ini.
Didit berdiri di pinggir kolam, memperhatikan setiap start dan setiap hentakan tangan para peserta. “Tradisi medali emas akuatik Kabupaten Kediri di semua kejuaraan harus terus dipertahankan,” katanya pelan, seolah lebih bicara pada dirinya sendiri.
Didit dan semua pengurus Akuatik Kabupaten Kediri tahu persis bahwa prestasi bukan sesuatu yang jatuh begitu saja. Tanpa regenerasi, kejayaan itu bisa hilang dalam sekejap. “Untuk itu kita butuh regenerasi. Salah satunya dengan menggelar kejuaraan seperti ini,” lanjutnya.
Kejuaraan ini bukan hanya agenda tahunan. Bagi Akuatik Kebupaten Kediri, ini adalah bagian dari gerakan besar yang ingin dibangun, menciptakan jalur panjang pembinaan atlet dari usia dini hingga level provinsi, bahkan nasional.
Kejuaraan Menjadi Rumah Baru

Ketua KONI Kabupaten Kediri, Hakim Rahmadsyah Parnata turut hadir. Di antara ramainya peserta, matanya menangkap sesuatu yang selalu ia cari, yaitu wajah-wajah yang memancarkan ambisi untuk menjadi juara.
“Kegiatan ini tentu sangat positif dalam rangka mencari bibit unggul di cabor renang,” ujarnya kepada RISKS.ID.
Menurut Hakim, Kediri tidak boleh berhenti di nomor speed saja. Hakim ingin Kediri menyiapkan generasi yang mampu bersaing di nomor lain seperti polo air, artistik, dan loncat indah.
“Ke depan, nomor yang kita perlombakan tidak hanya speed, namun juga polo air, artistik dan loncat indah,” katanya.
Di sela-sela kejuaraan, Hakim menyebut satu nama yang menjadi simbol keberhasilan pembinaan, yaitu Ghaira Suraya Filaili, perenang muda tangguh yang kini masuk Pelatda Jawa Timur.
Hakim juga bangga menyebut medali emas artistik Porprov melalui Affansani Maulana, serta perunggu loncat indah dari Novendra Rega Riandaru, prestasi yang sangat istimewa karena dua nomor itu baru pertama kali diikuti Kediri Kabupaten.
“Ini membesarkan hati kami, selain nomor speed yang selalu menyumbang banyak medali emas,” ucap Hakim, tampak berusaha menyembunyikan rasa harunya.
Sementara itu, di trek lomba, suasana lebih intens. Anak-anak KU 12–13 tampak berbaris sambil menggigil gugup, sebagian mengintip ke arah tribun tempat orang tua mereka menunggu. Pelatih berdiri di sisi kolam, tangan terkepal tegang saat atlet mereka naik ke balok start.
Begitu peluit berbunyi, air pecah oleh puluhan pukulan tangan yang ambisius. Ini bukan kolam renang biasa hari itu, ini adalah arena tempat keberanian ditempa.
Di pengujung acara, para pemenang tersenyum bangga, sementara peserta lain mendapat pengalaman berharga. Dan bagi para pengurus akuatik, kejuaraan ini adalah bukti bahwa mimpi besar harus dimulai dari langkah kecil, dari satu pagi Minggu yang meriah di Complang Park.
Kejuaraan renang ini tidak hanya melahirkan pemenang. Tetap juga melahirkan harapan. Harapan bahwa di tengah gemuruh air, ada masa depan olahraga Kediri yang sedang dibentuk, satu hentakan tangan demi satu hentakan tangan.
Kolam Menjadi Sumber Penghidupan
Dampak kejuaraan ini tak hanya dirasakan atlet, pelatih, atau organisasi olahraga. Ada denyut lain yang tak kalah kuat, denyut ekonomi masyarakat.
Jupri, Kepala Desa Purworejo, berdiri di dekat loket Complang Park. Wajahnya cerah dan terlihat bahagia. Dia tampak menyaksikan sendiri bagaimana para pedagang makanan, penyewa tikar, hingga penjual es kelapa kebanjiran pengunjung. Bahkan, tukang parkir juga sibuk mengatur banyaknya mobil dan motor yang masuk ke lokasi wisata itu.
“Selain memberikan masukan ke kas desa, kejuaraan ini juga berpengaruh kepada pendapatan pelaku kuliner di sekitar Complang Park,” katanya.
Dia memperkirakan setidaknya Rp250 juta berputar dalam satu hari kejuaraan. Di warung-warung kecil yang biasanya sepi di hari biasa, antrean panjang tampak mengular. Orangtua atlet membeli minuman, para panitia makan siang bersama, dan pedagang keliling pulang dengan senyum lebar.
“Semoga kejuaraan seperti ini bisa digelar dua kali dalam setahun,” harap Jupri.
Bukan hanya karena pemasukan, tetapi karena desa ini seolah menemukan identitas barunya sebagai rumah bagi olahraga air.





