RISKS.ID – Perum Bulog mencatat realisasi penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah mencapai lebih dari 784 ribu ton hingga 24 Desember 2025. Angka tersebut setara sekitar 52 persen dari target distribusi tahun ini.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, realisasi penyaluran beras SPHP hingga saat ini berada di angka 784 ribu ton. “Realisasinya sampai hari ini 784 ribu ton,” kata Rizal usai meninjau harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Rawamangun dan salah satu pusat perbelanjaan modern di Jakarta, Rabu.
Rizal menjelaskan, penyaluran beras SPHP dilakukan melalui berbagai gerai resmi. Mulai dari pengecer di pasar rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga pemerintah daerah melalui gerai pangan binaan dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Selain itu, Bulog juga berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui gerai BUMN, instansi pemerintah seperti TNI dan Polri, koperasi, GPM, Rumah Pangan Kita (RPK) Perum Bulog, hingga jaringan ritel modern. Pendekatan kolaborasi pentahelix tersebut dinilai memperkuat upaya percepatan distribusi beras dari gudang ke masyarakat di seluruh Indonesia.
Bahkan sebelumnya, Bulog menggandeng PT Pegadaian sebagai salah satu saluran resmi penjualan beras SPHP melalui gerai BUMN. Kolaborasi itu dilakukan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah lewat kegiatan operasi pasar murah.
Bulog juga memastikan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP) dapat membeli beras SPHP lebih dari dua paket per orang. Kebijakan khusus tersebut diberikan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap keterbatasan akses pangan dan logistik di wilayah 3TP.
“Langkah ini bersifat afirmatif agar masyarakat di wilayah 3TP tetap mendapatkan ketersediaan beras dengan harga terjangkau melalui program SPHP,” ujar Rizal.
Diketahui, target distribusi beras SPHP sepanjang Januari hingga Desember 2025 ditetapkan sebanyak 1,5 juta ton. Namun, Rizal mengakui realisasi tahun ini belum mencapai target karena penyaluran sempat terhenti selama empat bulan.
“Januari–Februari SPHP berjalan, tetapi Maret, April, Mei, dan Juni tidak ada distribusi karena masa panen raya. Juli hingga Desember baru berjalan lagi. Itu sebabnya capaian baru sekitar 52 persen,” jelas dia.
Ke depan, Bulog berencana menyalurkan beras SPHP sepanjang tahun. “Harapan kami mulai Januari sampai Desember 2026 penyaluran SPHP bisa berjalan penuh,” tambah Rizal.
Dia optimistis, dengan sisa waktu yang ada serta penguatan kolaborasi distribusi nasional, realisasi penyaluran beras SPHP tahun ini bisa mencapai sekitar 60 persen dari target. “Kalau estimasi saya bisa sampai sekitar 60 persen. Ini kan masih ada sekitar enam hari lagi,” ucapnya.
Adapun harga beras SPHP dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp12.500 per kilogram untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, Sulawesi); Rp13.100 per kilogram untuk zona 2 (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan); serta Rp13.500 per kilogram untuk zona 3 (Maluku dan Papua).






