RISKS.ID – Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan kesiapan institusinya untuk melakukan ekspor beras dan jagung pada tahun 2026. Kesiapan tersebut sejalan dengan capaian swasembada dua komoditas pangan strategis yang telah diumumkan pemerintah.
Rizal mengatakan, secara operasional Bulog tidak menghadapi kendala untuk mengekspor beras maupun jagung. Namun, langkah awal yang akan dilakukan adalah menunggu kepastian peluang serta kebutuhan negara tujuan melalui koordinasi resmi antar pemerintah.
“Kami siap dalam arti tinggal melihat potensi negara mana yang akan menjadi tujuan ekspor,” kata Rizal di Jakarta, Minggu(11/01/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Rizal saat menanggapi dorongan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. Titiek sebelumnya mendorong pemerintah dan Bulog agar mulai membuka keran ekspor beras dan jagung setelah Indonesia dinyatakan mencapai swasembada kedua komoditas tersebut.
Dorongan itu disampaikan Titiek dalam kegiatan Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 Swasembada Jagung yang dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Acara tersebut digelar di Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Kamis (8/1).
Selain dari DPR, kesiapan Bulog untuk ekspor juga mendapat penegasan dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman. Hal itu disampaikan Amran di sela Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, Rabu (07/01/2026), yang dihadiri sekitar 5.000 petani dan penyuluh secara luring serta dua juta petani secara daring.
Amran menilai, setelah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras dan jagung dari produksi dalam negeri, langkah berikutnya adalah menyiapkan ekspor sebagai bentuk kontribusi terhadap ketahanan pangan regional maupun global. Oleh karena itu, Bulog diminta segera bersiap dari sisi teknis dan manajerial.
Menanggapi arahan tersebut, Rizal menyampaikan bahwa Bulog terus melakukan koordinasi intensif terkait rencana ekspor. Koordinasi terutama dilakukan dengan Kementerian Perdagangan sebagai instansi yang memiliki kewenangan dalam komunikasi dan perjanjian dagang antarnegara.
Rizal menjelaskan, Bulog akan memprioritaskan peluang ekspor ke negara-negara tetangga. Selain itu, Bulog juga membuka peluang ekspor ke negara-negara yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan, termasuk wilayah yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.
Meski membuka opsi ekspor, Rizal menegaskan bahwa Bulog tetap memfokuskan penguatan penyerapan produksi dalam negeri. Sepanjang tahun 2026, Bulog menargetkan pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton.
Pada semester pertama 2026, Bulog menargetkan penyerapan beras minimal 3 juta ton. Target tersebut memanfaatkan momentum puncak panen nasional yang secara historis terjadi pada paruh pertama tahun.
Rizal optimistis target penyerapan semester pertama dapat tercapai bahkan melampaui 3 juta ton, dengan catatan panen berjalan lancar dan tidak terganggu cuaca ekstrem maupun faktor penghambat lainnya. Menurut dia, kondisi produksi saat ini cukup menjanjikan untuk mendukung target tersebut.
Sisa target penyerapan sekitar 1 juta ton direncanakan dilakukan pada semester kedua 2026. Dengan skema tersebut, Bulog berharap keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik dan rencana ekspor tetap terjaga.
Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog juga menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton. Namun, mayoritas produksi tetap diprioritaskan untuk menjaga ketahanan dan stabilitas pangan nasional.
Adapun hingga awal Januari 2026, Bulog tercatat mengelola stok cadangan beras pemerintah sebesar 3,25 juta ton. Stok tersebut merupakan carry over atau peralihan dari sisa stok tahun 2025 yang menjadi modal awal penguatan pasokan pangan nasional tahun ini.






