They Look to Us: Kita Tunjukkan Brain Country Indonesia

M. Ishom el Saha
M. Ishom el Saha. Foto: Istimewa

HEGEMONI Amerika Serikat dalam politik global terus memperlihatkan pengaruhnya melalui keterlibatan langsung maupun tidak langsung di berbagai kawasan strategis dunia. Venezuela menjadi contoh bagaimana kepentingan geopolitik dan energi mendorong intervensi kekuatan besar terhadap negara berdaulat.

Di Timur Tengah, keterlibatan Amerika dalam dinamika demonstrasi besar-besaran hingga tekanan terhadap Iran—yang kerap disebut sebagai negara Mullah—menunjukkan bahwa peta kekuasaan global masih ditentukan oleh kepentingan negara adidaya.

Bacaan Lainnya

Kenyataan tersebut menegaskan bahwa tatanan dunia belum sepenuhnya berpijak pada prinsip keadilan dan kesetaraan antarbangsa. Kekuatan ekonomi, militer, dan pengaruh politik tetap menjadi instrumen utama dalam menentukan arah global. Negara-negara yang kaya sumber daya alam, tetapi lemah dalam kecerdasan strategi nasional, berisiko terjebak dalam pusaran dominasi baru dengan wajah yang lebih halus.

Dalam konteks inilah kita patut “mengerutkan dahi” untuk memahami apa yang sudah dilontarkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tentang paradoks Indonesia dan strategi transformasi bangsa.

Gagasannya diulang kembali dalam Taklimat Presiden kepada Rektor dan pimpinan Perguruan tinggi di Istana Negara (15/1/2026). Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton, apalagi korban, dari perubahan geopolitik dan ekonomi dunia yang bergerak cepat dan penuh kepentingan.

Presiden juga mengingatkan kita tentang Indonesia sebagai brain country. Sebuah konsep yang menempatkan kecerdasan bangsa sebagai fondasi utama dalam membaca, memahami, dan merespons konstelasi global. Menurut Presiden, kekuatan suatu bangsa tidak semata ditentukan oleh limpahan sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan manusia di dalamnya mengelola potensi tersebut secara berdaulat dan berkelanjutan.

Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, mulai dari energi, mineral, hingga keanekaragaman hayati. Namun, Presiden mengingatkan bahwa kekayaan tersebut hanya akan bermakna apabila disertai dengan kesadaran kolektif dan kecerdasan nasional dalam mengelolanya untuk kepentingan jangka panjang bangsa.

Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia menjadi pelajaran penting. Pada masa penjajahan, Belanda menikmati kemakmuran dan menjadi salah satu negara dengan tingkat pembangunan tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut tidak lepas dari eksploitasi sumber daya alam dan manusia di tanah jajahan, termasuk Indonesia.

Ketika Indonesia merdeka dan tidak lagi menjadi sumber eksploitasi, pengaruh dan posisi Belanda di tingkat global perlahan menurun. Fakta sejarah ini menunjukkan betapa besarnya daya pengaruh sumber daya Indonesia terhadap kemajuan bangsa lain ketika tidak dikelola secara berdaulat oleh pemiliknya sendiri.

Pelajaran tersebut seharusnya menumbuhkan kesadaran nasional bahwa penguasaan dan pengelolaan sumber daya tidak cukup hanya melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui sikap dan pemahaman warga negaranya. Tanpa kecerdasan kolektif, bangsa ini berisiko kembali kehilangan kendali atas kekayaannya dalam bentuk yang berbeda.

Dalam kerangka brain country, peran dan tanggung jawab warga negara Indonesia menjadi sangat penting. Setiap warga negara dituntut untuk memiliki kesadaran geopolitik, literasi ekonomi, serta kepekaan terhadap isu-isu strategis yang menyangkut kedaulatan bangsa.

Bangsa yang cerdas bukan hanya diukur dari tingkat pendidikan formal, tetapi dari kemampuan warganya berpikir kritis, tidak mudah terprovokasi, serta mampu membedakan kepentingan nasional dari kepentingan asing yang menyamar dalam berbagai bentuk kerja sama global.

Di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, Indonesia membutuhkan warga negara yang memahami posisi bangsanya, mendukung kebijakan yang berpihak pada kedaulatan, serta aktif menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan dan kepentingan.

Sebagai brain country, Indonesia juga dituntut berkontribusi secara aktif dalam penyelesaian persoalan global, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan ketimpangan ekonomi. Kontribusi ini hanya mungkin terwujud jika kesadaran sebagai bangsa cerdas tumbuh dari bawah, dari setiap warga negara.

Pada akhirnya, brain country bukan sekadar slogan, melainkan panggilan tanggung jawab kolektif. Di tengah dunia yang sarat dominasi dan kepentingan, Indonesia ditantang menjadikan kecerdasan warganya sebagai kekuatan utama untuk menjaga kedaulatan, martabat, dan masa depan bangsa dalam percaturan global kekinian.

Oleh: M. Ishom el Saha
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *