RISKS.ID — Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menerbitkan delapan seri surat berharga negara (SBN) ritel sepanjang 2025 dengan total nilai mencapai Rp153 triliun.
Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) DJPPR Kementerian Keuangan Novi Puspita Wardani mengatakan, dari delapan seri SBN ritel tersebut jumlah investornya mencapai sekitar 262.000 orang.
“Kalau kita lihat dari delapan seri yang diterbitkan sepanjang 2025, total investornya mencapai sekitar 262 ribu investor,” ujar Novi di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurut Novi, tren tersebut menunjukkan peningkatan literasi keuangan masyarakat serta semakin dikenalnya instrumen obligasi ritel sebagai pilihan investasi.
Berdasarkan data DJPPR, investor SBN ritel didominasi perempuan dengan porsi 58 persen, sementara laki-laki sebesar 42 persen. Kementerian Keuangan menilai dominasi tersebut berkaitan dengan peran perempuan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga serta kecenderungan memilih instrumen investasi yang stabil dan aman.
“SBN ritel adalah instrumen yang relatif aman dan memberi kepastian karena bersifat fixed income dengan kupon tetap. Karena itu, terlihat perempuan mendominasi sebesar 58 persen,” jelas Novi.
Dari sisi generasi, investor SBN ritel didominasi kelompok milenial dan generasi Z dengan porsi sekitar 57 persen. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya partisipasi generasi muda dalam investasi obligasi ritel.
Sementara itu, generasi X tercatat sebesar 29 persen, baby boomers 14 persen, dan generasi sebelum tahun 1945 sekitar 1 persen.
Jika ditinjau dari profesi, investor SBN ritel paling banyak berasal dari kalangan pegawai swasta dengan porsi 33 persen. Selanjutnya, wiraswasta 18 persen, pelajar dan mahasiswa 12 persen, ibu rumah tangga 9 persen, kategori lainnya 9 persen, aparatur sipil negara (ASN) 7 persen, pegawai otoritas atau lembaga BUMN dan BUMD 4 persen, profesional 4 persen, pensiunan 3 persen, serta TNI dan Polri 1 persen.
Adapun berdasarkan wilayah, investor SBN ritel paling banyak berasal dari Indonesia bagian barat di luar DKI Jakarta dengan porsi 62,1 persen. DKI Jakarta menyumbang 27,7 persen, Indonesia bagian tengah 9,7 persen, dan Indonesia bagian timur 0,5 persen.
“Ini menunjukkan tantangan sekaligus harapan ke depan. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan partisipasi investor di Indonesia bagian tengah dan timur yang selama ini secara demografi jumlah investornya relatif terbatas. Di sisi lain, potensi di wilayah tersebut masih sangat besar dan perlu didorong melalui peningkatan literasi keuangan,” kata Novi.






