Danantara Lanjutkan Restrukturisasi BUMN, Perkuat Teknologi Himbara

rosan roeslani
CEO Danantara Rosan Roeslani. Foto: Istimewa

RISKS.ID — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan melanjutkan upaya restrukturisasi perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satu fokus utama adalah penguatan infrastruktur teknologi di lingkungan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, penguatan teknologi diperlukan agar proses pengambilan keputusan di perbankan BUMN menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien, khususnya dalam penyaluran kredit kepada nasabah.

Bacaan Lainnya

“Untuk Himbara, dengan teknologi kita akan meningkatkan supaya lebih cepat, lebih baik, lebih transparan dalam pengambilan keputusannya, mereka dalam hal-hal memberikan pinjaman kepada para nasabahnya,” ujar Rosan dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Rosan mencontohkan penguatan akan dilakukan pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang ke depan diarahkan untuk lebih fokus melayani segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor ritel. Menurutnya, penguatan teknologi menjadi faktor krusial mengingat besarnya jumlah nasabah yang dilayani BRI.

“Misalnya seperti BRI, kita harus fokus lebih ke UMKM, retail. Nah, kita perkuat di situnya. Karena kalau seperti BRI, tentunya teknologi menjadi hal yang sangat utama, karena mereka melayani puluhan juta bahkan ratusan juta nasabah,” kata Rosan.

Seiring Himbara kini berada di bawah naungan Danantara, Rosan mengimbau agar seluruh bank pelat merah tersebut memperkuat kolaborasi dan sinergi, tidak hanya dengan sesama BUMN, tetapi juga dengan sektor swasta dan sektor lainnya.

“Karena semua sekarang di bawah Himbara, mereka harus berkolaborasi, harus bersinergi tidak hanya dengan BUMN, tetapi yang paling penting juga dengan sektor swasta dan sektor lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Rosan menegaskan Danantara akan terus mengedepankan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) di seluruh lapisan perusahaan BUMN.

“Kami menekankan bagaimana tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, akuntabilitas, dan integritas. Itu menjadi pedoman yang ingin kami terapkan secara penuh,” katanya.

Dalam dokumen Danantara Economic Outlook 2026, disebutkan bahwa reformasi perusahaan-perusahaan BUMN besar akan menjadi agenda lanjutan yang mulai dijalankan pada 2026. Danantara menilai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berada pada posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan, seiring penurunan biaya dana dan membaiknya pertumbuhan kredit.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai siap memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dengan memanfaatkan peningkatan kualitas dan nilai aset yang dimiliki.

Sebelumnya, Danantara juga dinilai telah memperoleh kredibilitas pasar melalui upaya pemulihan yang tengah berjalan di sejumlah BUMN, seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Timah Tbk (TINS).

Adapun Presiden RI Prabowo Subianto secara terbuka menetapkan target pengurangan jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi sekitar 200. Program tersebut dipahami sebagai agenda jangka menengah hingga panjang, bukan kebijakan korporasi yang diselesaikan dalam satu tahun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *