Cuaca Buruk, Tim SAR Hentikan Sementara Pencarian Korban Longsor di Cisarua Bandung Barat

longsor cisarua
Kondisi longsor di Cisarua, Bandung Barat. Foto: Tangkapan Layar

RISKS.ID — Tim SAR gabungan menghentikan sementara proses pencarian korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akibat cuaca buruk yang membahayakan keselamatan personel di lapangan.

Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian mengatakan hujan deras disertai angin kencang membuat kondisi tanah di lokasi bencana semakin labil dan berpotensi memicu longsor susulan.

Bacaan Lainnya

“Keselamatan personel menjadi prioritas. Dengan kondisi tanah yang labil dan cuaca yang terus memburuk, pencarian tidak memungkinkan untuk dilanjutkan,” ujar Ade di Bandung Barat, Rabu (28/1/2026).

Ade menjelaskan, material lumpur yang tebal juga menyulitkan proses evakuasi korban yang diduga masih tertimbun di lokasi longsor. Meski demikian, sebelum operasi pencarian dihentikan sementara, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi satu jenazah yang kemudian dibawa ke fasilitas terkait untuk menjalani proses identifikasi.

Pencarian korban, lanjut Ade, akan kembali dilanjutkan setelah cuaca membaik dan kondisi lokasi dinyatakan aman bagi seluruh petugas.

Selain menghadapi tantangan cuaca dan medan, tim SAR gabungan juga mendapatkan dukungan kesehatan berupa vaksinasi dan pemberian vitamin dari Kementerian Kesehatan serta Dinas Kesehatan setempat.

“Kami mendapat bantuan vaksin dan vitamin untuk menjaga kondisi tim pencari. Ini sangat berarti mengingat risiko di lapangan,” kata Ade.

Tenaga medis juga disiagakan di setiap sektor pencarian untuk mengantisipasi kondisi darurat yang mungkin dialami personel selama operasi berlangsung.

“Di setiap lokasi ada tim dokter, sehingga bila terjadi sesuatu bisa langsung ditangani,” ujar dia.

Terkait durasi operasi pencarian, Ade menyampaikan pemerintah daerah mengusulkan pencarian dilakukan selama 14 hari dengan evaluasi pada hari ketujuh, Jumat (30/1).

“Kami mengikuti ketentuan tersebut. Nanti akan dievaluasi apakah perlu perpanjangan atau tidak, tergantung hasil pencarian,” katanya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan sebanyak 48 rumah warga terdampak longsor di Desa Pasi, Kabupaten Bandung Barat, akan direlokasi dan dibangun kembali.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan jumlah rumah yang direlokasi tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring perkembangan kondisi di lapangan.

“Data sementara rumah yang terdampak langsung ada 48 unit yang harus dibangun kembali. Apakah nanti relokasinya terpusat atau mandiri, tentu akan disesuaikan. Angka ini juga bisa bertambah sesuai kondisi di lapangan,” ujar Suharyanto.

Menurut dia, dalam satu hingga dua hari ke depan, warga terdampak akan dipindahkan ke hunian sementara atau menerima dana tunggu hunian sebesar Rp 600.000 per kepala keluarga per bulan.

“Dana tunggu hunian itu bisa dimulai Januari, Februari, dan Maret. Kalau sampai Maret rumah permanen belum selesai, akan diperpanjang,” kata Suharyanto.

Hunian sementara diprioritaskan bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang akibat longsor. Pendataan calon penerima dilakukan secara berjenjang mulai dari RT, RW, desa, hingga pemerintah kabupaten, lalu diverifikasi bersama BNPB.

“Dalam menentukan apakah suatu lokasi masih layak dihuni, pemerintah daerah akan berkomunikasi dengan BNPB untuk melihat dari sudut pandang geologi,” ujar dia.

Suharyanto menegaskan hunian sementara dapat dibangun secara terpusat maupun mandiri, bergantung pada kesiapan lahan yang tersedia.

“Kalau terpusat, yang menyiapkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Hunian ini sifatnya sementara, bisa menggunakan tanah fasilitas umum atau meminjam lahan masyarakat yang lapang dan memungkinkan untuk dibangun,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *