PT Bank Danamon Indonesia Tbk Buka Peluang Garap Bisnis Paylater, Masih Tahap Kajian

PAYLATER

RISKS.ID – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) menyatakan membuka peluang untuk masuk ke bisnis Paylater sebagai bagian dari strategi memperkuat penetrasi di segmen ritel.

Namun hingga kini, perseroan masih melakukan kajian terkait model bisnis dan skema penyaluran yang dinilai paling tepat.

Bacaan Lainnya

Wakil Direktur Utama Danamon, Honggo Widjojo Kangmasto, mengatakan minat untuk masuk ke lini tersebut memang ada, mengingat Paylater merupakan bagian dari kredit konsumsi yang potensial.

“Minat tentu selalu ada karena Paylater bagian dari kredit konsumsi. Tapi sampai sekarang kami masih mencari bentuk yang tepat untuk bisnis ini,” ujar dia dalam Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja FY 2025 di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, meskipun prospektif, perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian sebelum memutuskan ekspansi. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah penyaluran melalui entitas dalam grup, yakni Home Credit Indonesia.

Selain itu, Danamon juga membuka peluang kolaborasi dengan ekosistem digital yang terhubung dengan jaringan strategis induk usaha. Sinergi bersama ekosistem investasi milik MUFG Group di sejumlah perusahaan rintisan (startup) di Indonesia turut menjadi pertimbangan untuk mempercepat penetrasi pasar sekaligus meminimalkan risiko.

Meski demikian, keputusan final terkait ekspansi Paylater masih menunggu hasil kajian kelayakan bisnis secara komprehensif. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain potensi risiko kredit, kesiapan infrastruktur digital, serta dinamika regulasi.

“Ke depan, bank tetap berfokus memperkuat posisi sebagai bank konvensional dengan kapabilitas digital, sembari terus mengeksplorasi peluang bisnis baru yang dapat memperluas basis nasabah ritel tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian,” kata Honggo.

Laba Bersih Tumbuh 14 Persen

Sepanjang 2025, Danamon membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasian sebesar Rp4 triliun, tumbuh 14 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dari sisi intermediasi, total kredit dan trade finance konsolidasian tercatat Rp212,7 triliun per 31 Desember 2025, meningkat 9 persen (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di seluruh lini bisnis, mulai dari enterprise banking, financial institutions, consumer banking, hingga pembiayaan melalui Adira Finance.

Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 16 persen (yoy) menjadi Rp176,9 triliun, ditopang oleh peningkatan simpanan giro dan tabungan (CASA).

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 1,7 persen, membaik 20 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Rasio Loan at Risk (LAR) turun 230 basis poin secara tahunan menjadi 8,3 persen.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *