RISKS.ID – Langit pagi di perairan Teluk Adang masih menyisakan kelabu ketika deru mesin perahu karet memecah sunyi, Rabu (18/3/2026). Ombak kecil bergulung pelan, seolah menyembunyikan kisah pilu yang terjadi hanya beberapa jam sebelumnya. Di hamparan laut itulah, harapan dan kecemasan saling berkejaran.
Tim Search and Rescue (SAR) dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan bergerak sejak pagi buta. Wajah-wajah lelah tampak jelas, tetapi tekad mereka tak surut. Setiap mata menatap permukaan laut dengan harap, semoga korban segera ditemukan.
Korban itu adalah Saiful Bakri, 43 tahun, warga Desa Bunga Putih, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Seorang lelaki biasa yang namanya mendadak menjadi pusat perhatian setelah peristiwa tragis di atas kapal penumpang.
Semua bermula pada Selasa malam (17/3), sekitar pukul 20.20 Wita. Kapal Motor KM Damai Lautan Nusantara melaju dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Kalimantan Timur. Di tengah perjalanan, di antara riuh penumpang dan suara mesin kapal, sebuah kejadian tak terduga mengoyak ketenangan.
Seorang saksi mata melihat dia berdiri di sisi railing kapal. Lama dia menatap laut gelap, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang ada di benaknya saat itu. Hingga, dalam hitungan detik yang terasa begitu cepat, dia melompat.
Air laut seketika menelan tubuhnya, meninggalkan kepanikan di atas kapal.
Awak kapal bergegas. Dua jam penuh mereka menyisir area sekitar lokasi kejadian. Senter diarahkan ke permukaan air, teriakan saling bersahutan, berharap ada jawaban dari gelapnya laut. Namun hasilnya nihil. Laporan pun segera dikirim ke tim SAR.
Pagi harinya, operasi pencarian resmi dimulai. Komandan SRU, Bongga Losong, memimpin langsung briefing pada pukul 07.00 Wita. Instruksi disampaikan dengan tegas—waktu sangat berharga.
Sekitar pukul 10.00 Wita, tim gabungan tiba di lokasi kejadian. Laut tak lagi sekadar bentangan air, melainkan arena pencarian yang penuh ketidakpastian. Dengan radius hingga 2 nautical mile, penyisiran dilakukan secara sistematis.
Perahu karet bergerak perlahan. Beberapa penyelam bersiap, sementara tim lain memantau dari permukaan. Setiap riak air menjadi petunjuk. Setiap bayangan di laut menumbuhkan harapan.
Satu jam berlalu.
Hingga akhirnya, pada pukul 11.00 Wita, harapan itu terjawab—meski bukan seperti yang diinginkan.
Tubuh Saiful ditemukan pada koordinat 01°48’445” S – 116°51’449” E, sekitar 2,45 nautical mile dari lokasi awal dia terjatuh. Dia ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Laut yang sebelumnya menyimpan misteri, kini mengembalikan seorang manusia—dalam diam.
Proses evakuasi berlangsung hening. Tak ada sorak, tak ada lega yang utuh. Hanya rasa duka yang perlahan menyelimuti semua yang terlibat. Jenazah kemudian dibawa menuju Pelabuhan Semayang.
Pukul 13.30 Wita, ambulans telah menunggu. Tubuh Saiful segera dilarikan ke RS Bhayangkara Balikpapan untuk penanganan lebih lanjut.
Tak lama setelah itu, pukul 13.45 Wita, seluruh unsur SAR berkumpul. Dalam suasana yang berat, mereka sepakat mengusulkan penghentian operasi. Tugas telah selesai, meski meninggalkan luka.
Operasi ini melibatkan banyak pihak. Dari tim rescue SAR Balikpapan, TNI AL, Polairud, BPBD, hingga KSOP. Peralatan dikerahkan maksimal, mulai dari rubber boat, perlengkapan selam, alat komunikasi, hingga dukungan medis.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tak bisa diukur dengan alat apa pun: rasa kemanusiaan.
Di laut lepas, batas antara hidup dan kehilangan begitu tipis. Dan hari itu, di Teluk Adang, sebuah keluarga harus menerima kenyataan pahit, orang yang mereka tunggu tak akan pulang seperti sediakala.
Sementara ombak terus bergulung, seolah menghapus jejak, kisah ini akan tetap tinggal. Dalam ingatan para pencari. Dalam duka keluarga. Dan dalam sunyi yang tak pernah benar-benar pergi.






