RISKS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya tidak lagi membutuhkan bantuan sekutu, termasuk Jepang, untuk mengamankan Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran.
Dalam pernyataannya pada Selasa (17/3/2026), dia mengeklaim bahwa keberhasilan militer telah dicapai dalam operasi melawan Iran. Oleh karena itu, keterlibatan negara lain dinilai tidak lagi diperlukan.
“Karena kita telah mencapai keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi membutuhkan atau menginginkan bantuan negara-negara NATO. Kita tidak pernah membutuhkannya,” tulis dia melalui media sosial.
Selain NATO, dia juga menyinggung negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang dinilai tidak menunjukkan minat untuk mengirim kapal perang ke jalur strategis tersebut. Padahal, sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Pernyataan itu muncul menjelang rencana pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih pada Kamis (19/3/2026).
Sebelumnya, pada akhir pekan, dia sempat berharap negara-negara seperti Inggris, China, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan dapat bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam menjaga keamanan jalur pelayaran global.
Namun, menurut dia, sebagian besar sekutu NATO menolak untuk bergabung dalam kampanye militer Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran. Dia bahkan menyindir sikap negara-negara Eropa yang dinilai tidak seimbang dalam kontribusi aliansi.
“Saya tidak terkejut, karena saya selalu menganggap NATO sebagai jalan satu arah,” ujar dia.
Dalam pernyataan terpisah di Ruang Oval, dia kembali menegaskan kekecewaannya terhadap sejumlah sekutu. Dia menilai negara-negara tersebut seharusnya lebih menghargai peran Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas global.
Menurut dia, tanpa operasi militer terbaru, Iran berpotensi memiliki kekuatan senjata nuklir yang dapat mengancam dunia.
Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri masih memanas. Penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Jepang, misalnya, diketahui mengandalkan lebih dari 90 persen impor minyak mentah dari Timur Tengah. Namun, keterlibatan militer negara itu terbatas karena konstitusi pasifis yang dianutnya.
Di sisi lain, dia menyebut Amerika Serikat justru mendapat dukungan kuat dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Selain isu Timur Tengah, dia juga menyinggung bantuan militer Amerika Serikat kepada Ukraina yang disebut telah diberikan dalam jumlah besar tanpa biaya, atas permintaan sekutu Eropa dalam menghadapi konflik dengan Rusia.






