Krisis Iklim Ancam Ekonomi dan Ketahanan Pangan Indonesia

Foto ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Krisis iklim kian menegaskan diri sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor lingkungan, tetapi juga merembet ke sektor pangan hingga makroekonomi nasional. Estimasi kerugian ekonomi akibat krisis iklim pada 2024 bahkan mencapai Rp112,2 triliun, atau setara sekitar 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sektor pangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Kerugian ekonomi di sektor ini diperkirakan berada di kisaran 0,18 persen hingga 1,26 persen PDB. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan strategis yang berpotensi mengganggu ketahanan nasional.

Bacaan Lainnya

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor menjadi kontributor besar kerugian ekonomi. “Kerugian tahunan akibat banjir dan longsor yang dipicu perubahan iklim bisa mencapai Rp50 triliun,” ujarnya dalam forum diseminasi inovasi pangan tahan iklim ekstrem.

Menurutnya, dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan pangan terjadi melalui berbagai jalur. Gagal panen menyumbang porsi terbesar hingga 40 persen, diikuti gangguan distribusi 25 persen, kerusakan infrastruktur 20 persen, serta pergeseran musim tanam sebesar 15 persen. “Secara ekonomis, dampak ini sangat merugikan dan sistemik,” kata Yudhistira.

Perubahan iklim juga berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap tanaman pangan. Suhu ekstrem di siang hari dapat menurunkan kualitas dan produktivitas hasil panen. Sementara itu, faktor tidak langsung seperti kekeringan, banjir, intrusi air laut, hingga ledakan hama dan penyakit semakin memperparah kondisi. “Tanaman mengalami tekanan lingkungan yang semakin kompleks,” jelasnya.

Fenomena El Nino menjadi salah satu indikator nyata dampak iklim di Indonesia. Dalam beberapa periode, El Nino menyebabkan penurunan produksi padi secara signifikan. Data menunjukkan, luas sawah terdampak kekeringan bisa mencapai 450 ribu hingga 800 ribu hektare, dengan penurunan produksi berkisar antara 100 ribu ton hingga 1,7 juta ton. “Ini menunjukkan betapa rentannya sistem produksi pangan kita terhadap variabilitas iklim,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, Yudhistira menekankan pentingnya strategi adaptasi dan mitigasi. Adaptasi dilakukan melalui peningkatan produktivitas tanaman tahan cekaman, pengelolaan air, serta penguatan cadangan pangan. Sementara mitigasi diarahkan pada pengurangan emisi gas rumah kaca serta restorasi ekosistem. “Kita harus bergerak di dua jalur sekaligus, adaptasi dan mitigasi,” tegasnya.

Selain itu, ia mendorong penguatan peran daerah dalam diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Komoditas seperti sorgum, sagu, hingga umbi-umbian dinilai lebih adaptif terhadap kondisi iklim Indonesia. “Diversifikasi pangan lokal adalah kunci, karena lebih tahan iklim, rendah input, dan sesuai dengan budaya masyarakat,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *