RISKS.ID — Secangkir kopi panas mengepul di hadapan Hadi Surento. Aroma buah matang dengan sentuhan smoky perlahan tercium, berbeda dari kopi Kalimantan yang biasa dia nikmati.
“Ini unik. Ada rasa manis alami, agak fruity, tapi tetap earthy. Beda,” kata Hadi, pecinta kopi asal Jakarta, saat menyeruput kopi Prangat untuk pertama kalinya.
Kopi Prangat berasal dari Desa Prangat Baru, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kopi ini tumbuh dari varietas Liberika, jenis kopi yang tak sepopuler Arabika atau Robusta, namun memiliki karakter rasa yang kuat dan khas.
Bagi Hadi, pengalaman minum kopi Prangat bukan sekadar menikmati minuman, melainkan merasakan cerita di balik biji kopi tersebut.
“Kopi ini punya identitas. Begitu diminum, langsung terasa bukan kopi massal. Ada karakter kampungnya, ada alamnya,” ujar pria tampan bertinggi badan 180 cm itu.
Pengalaman serupa juga dirasakan Dhani Irawan, warga Surabaya yang gemar menjelajah kopi nusantara. Dhani mengaku sempat ragu ketika pertama kali mendengar kopi dari Kalimantan Timur, namun Prangat justru memberinya sengatan.
“Selama ini kopi Kalimantan identik dengan rasa yang cenderung berat. Tapi Prangat ini punya rasa ‘yang lain’. Lebih kompleks, ada asam ringan, ada manis di akhir, seperti menyengat,” kata Dhani.
Menurut dia, karakter tersebut membuat kopi Prangat mudah dinikmati, bahkan bagi penikmat kopi non-spesialti.
“Ini kopi yang bisa diminum santai, tapi tetap bikin penasaran,” ujar Dhani.
Di balik cita rasa kopi Prangat, tersimpan kisah panjang kegigihan para petani. Desa Prangat Baru bukan daerah penghasil kopi yang populer sejak awal. Para petani di sana menanam kopi Liberika karena menyesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat yang lembap dan dataran rendah.
Perjalanan mereka tidak mudah. Bertahun-tahun kopi Prangat hanya dikenal secara lokal. Bahkan, sebagian petani sempat hampir menyerah karena harga jual yang rendah dan minimnya akses pasar.
Namun, ketekunan itu berbuah hasil. Kopi Prangat mulai dikenal luas setelah kualitasnya diperhatikan, termasuk ketika kopi Liberika Prangat juga diolah menjadi kopi luwak alami.
Cita rasanya yang khas membuat kopi ini perlahan menarik perhatian penikmat kopi dari berbagai daerah.
“Kopi Prangat itu bukti bahwa kopi enak nggak harus dari daerah yang sudah terkenal,” kata Hadi.
Kini, kopi Prangat tak hanya menjadi komoditas, tetapi juga identitas desa. Upaya untuk mendorong pengakuan indikasi geografis terus dilakukan agar keaslian dan kualitas kopi ini tetap terjaga.
Bagi Dhani, setiap tegukan kopi Prangat seperti menghubungkan kota besar dengan desa kecil di Kalimantan Timur.
“Minum kopi ini rasanya kayak diajak mampir ke kampungnya langsung. Ada cerita alam, ada perjuangan petani,” ujarnya.
Hadi pun sepakat. Menurut dia, kopi Prangat layak mendapat tempat di antara kopi-kopi nusantara lain yang lebih dulu populer.
“Ini kopi yang jujur. Sederhana, tapi punya karakter kuat. Kalau orang suka eksplor rasa, kopi Prangat wajib dicoba,” kata dia.
Secangkir kopi Prangat pun menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia adalah pertemuan antara alam Kalimantan Timur, kegigihan petani, dan penikmat kopi yang mencari rasa baru dalam setiap tegukan.






