Menelusuri China Town Kediri, Jejak Peradaban Tionghoa dan Surga Kuliner Tempo Dulu

Salah satu ikon utama kawasan Pecinan Kota Kediri adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang terletak di Jalan Yos Sudarso. Foto: Shutterstock.com

RISKS.ID – Kawasan China Town atau Pecinan di Kota Kediri, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan kuliner yang menarik untuk dijelajahi.

Pusat Pecinan Kediri berada di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, khususnya di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan area sekitar Jalan Dhoho. Kawasan ini dikenal sebagai pusat peradaban Tionghoa di Kediri yang masih menyimpan bangunan-bangunan tua serta ragam kuliner khas.

Bacaan Lainnya

Salah satu ikon utama kawasan ini adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang terletak di Jalan Yos Sudarso. Klenteng ini menjadi jantung aktivitas budaya dan keagamaan masyarakat Tionghoa di Kediri sekaligus penanda kuat sejarah panjang komunitas tersebut di kota ini.

Di sekitarnya terdapat Kampung Pecinan Pakelan yang dipenuhi bangunan bergaya arsitektur Tionghoa kuno. Lorong-lorong kawasan ini kerap menjadi tujuan wisatawan untuk berburu foto hingga mengikuti kegiatan jelajah sejarah.

Pemerintah Kota Kediri juga merencanakan pengembangan Jalan Monginsidi sebagai kawasan Pecinan sekaligus kampung kuliner guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

“Kota Kediri identik dengan kehidupan Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan. Dan kami hidup rukun dengan warga pribumi selama puluhan tahun,” kata Andy Wijaya, warga Kota Kediri.

Surga Kuliner Legendaris

Tak lengkap berkunjung ke Pecinan Kediri tanpa mencicipi kuliner legendarisnya. Di Jalan Dhoho, terdapat RM Sari Agung (Canton) yang dikenal sebagai restoran Chinese food legendaris dengan sajian masakan Kanton klasik.

Masih di kawasan yang sama, Kopi Pagi Pecinan atau Kopinang menjadi tempat sarapan favorit. Berlokasi di Jalan Dhoho Pakelan, tempat ini menawarkan suasana pagi khas dengan latar bangunan kuno yang menambah nuansa tempo dulu.

Di dekat klenteng, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, terdapat Mie Matahari yang dikenal dengan menu bihun goreng dan capcay. Sementara itu, Bao Bao Kediri di Jalan Kyai Mojo menghadirkan konsep angkringan bernuansa Chinese yang unik.

Ada pula RM Tionghwa di Jalan Stasiun yang menjadi alternatif menikmati hidangan khas Tionghoa.

kopi papa liem kediri
Kedai Kopi Papa Liem di Jalan Dhoho, Kota Kediri. Foto: RISKS.ID

Kawasan ini juga rutin menjadi lokasi kegiatan “Jelajah Pecinan” yang digelar komunitas pelestari sejarah bersama Pemerintah Kota Kediri. Kegiatan tersebut mengajak peserta menelusuri jejak peradaban Tionghoa di area Pakelan hingga Ringin Anom.

Wisatawan juga dapat menikmati wisata kuliner pagi maupun malam dengan suasana khas Pecinan yang kental. Kunjungan ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong pun menjadi agenda favorit untuk melihat langsung kemegahan bangunan bersejarah tersebut.

Dengan kombinasi wisata sejarah, fotografi bangunan tua, dan ragam kuliner autentik, kawasan China Town Kediri menjadi destinasi menarik yang layak dikunjungi saat berada di pusat Kota Kediri.

Tahu Takwa

Tahu takwa menjadi salah satu kuliner paling ikonik dari Kota Kediri, Jawa Timur. Makanan berbahan dasar kedelai ini dikenal dengan warna kuning cerah dan teksturnya yang padat, sehingga kerap dijadikan oleh-oleh khas saat berkunjung ke Kediri.

Sejarah tahu takwa tidak lepas dari peran komunitas Tionghoa yang bermukim di kawasan Pecinan Kediri sejak ratusan tahun lalu. Mereka membawa tradisi pembuatan tahu dari Tiongkok dan mengembangkannya sesuai selera serta bahan baku lokal.

Nama “takwa” sendiri diyakini berasal dari dialek Hokkien, yakni kata “tao kwa” yang berarti tahu keras. Seiring waktu, penyebutan tersebut berubah menjadi “tahu takwa” di kalangan masyarakat setempat.

Berbeda dengan tahu putih pada umumnya, tahu takwa memiliki warna kuning khas yang berasal dari perendaman dalam air kunyit. Proses ini tidak hanya memberi warna, tetapi juga menambah aroma dan memperpanjang daya tahan tahu.

Pada masa lalu, produksi tahu takwa banyak berkembang di sekitar kawasan Pecinan, khususnya di wilayah Kelurahan Pakelan dan sekitarnya. Sentra produksi ini kemudian semakin dikenal luas hingga muncul istilah “Kota Tahu” yang melekat pada Kediri.

Selain dijual dalam bentuk tahu segar, tahu takwa kini juga diolah menjadi berbagai varian, seperti tahu pong, tahu bakso, hingga tahu krispi. Meski demikian, cita rasa klasik tahu takwa yang gurih dan padat tetap menjadi favorit.

Hingga kini, industri tahu takwa masih bertahan sebagai usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun. Keberadaannya bukan sekadar komoditas kuliner, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas Kota Kediri yang mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Tak heran jika tahu takwa terus menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin mencicipi cita rasa khas sekaligus menelusuri jejak sejarah kuliner di Kota Kediri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *