RISKS.ID – Pasar valuta asing global bergerak dengan volatilitas yang relatif terbatas pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Mayoritas mata uang utama masih kesulitan mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena investor memilih menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan Rabu waktu setempat. Sikap hati-hati tersebut membuat dolar AS tetap bertahan di level yang solid.
Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, perhatian investor tertuju pada pernyataan Ketua The Fed yang dinilai akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter pada pertemuan berikutnya. Harapan bahwa peluang kenaikan suku bunga masih terbuka menjadi faktor yang menopang penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama.
Di pasar Eropa, pasangan GBP/USD bergerak di kisaran 1,3292. Meski sempat mencatat kenaikan dibanding pembukaan sesi, nilai tukar pound sterling masih berada di bawah posisi perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut mencerminkan dominasi dolar AS yang masih menjadi pilihan utama investor menjelang pengumuman kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tekanan terhadap mata uang Inggris juga dipicu oleh menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun yang mendekati 4,97 persen. Penurunan harga minyak dunia membantu meredakan tekanan inflasi sehingga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of England mulai berkurang. Secara teknikal, GBP/USD memiliki area support di 1,3265 dan resistance di 1,3325.
Sementara itu, euro bergerak stabil di sekitar level 1,1373 terhadap dolar AS dan masih berada dekat posisi terendah dalam satu bulan terakhir. Pelaku pasar belum berani mengambil posisi besar sebelum memperoleh kepastian mengenai arah kebijakan The Fed. Selama prospek suku bunga AS tetap tinggi, ruang penguatan euro diperkirakan masih terbatas. Level support EUR/USD berada di 1,1345 dengan resistance di 1,1405.
Pergerakan mata uang komoditas juga belum menunjukkan tren yang kuat. Dolar Australia sempat mendekati level psikologis 0,7000, namun gagal mempertahankan penguatannya meskipun Gubernur Reserve Bank of Australia menyampaikan pandangan terbaru mengenai kebijakan moneter. Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. AUD/USD memiliki support di 0,6965 dan resistance di 0,7005.
Kondisi serupa terjadi pada dolar Selandia Baru yang diperdagangkan di kisaran 0,5770. Walaupun ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of New Zealand pada September masih memberikan dukungan, meningkatnya ketidakpastian global membuat investor tetap berhati-hati. Di kawasan Asia, USD/JPY bergerak stabil di sekitar 163,77 karena pasar juga menanti keputusan Bank of Japan yang diperkirakan mempertahankan suku bunga.
Sementara itu, USD/CHF dan USD/CAD bergerak dalam rentang yang terbatas. Dolar AS memang mulai kehilangan sebagian momentumnya setelah menguat selama beberapa sesi terakhir, namun sentimen pasar masih bergantung pada hasil rapat The Fed beserta konferensi pers ketuanya. Hingga ada sinyal baru dari bank sentral AS, pelaku pasar diperkirakan akan tetap membatasi transaksi agresif di pasar valuta asing.






