Makan di Atas Jam 7 Malam: Cek Dampak Positif dan Risikonya Bagi Kesehatan

Ilustrasi makan bersama. Foto ist/RISKS.ID

RISKS.ID – Kebiasaan menyantap makanan di atas jam 7 malam kini kian lazim dilakukan masyarakat perkotaan seiring dengan tingginya mobilitas dan jam kerja yang panjang.

Kendati kerap dianggap memicu kenaikan berat badan dan gangguan kesehatan, pola makan pada malam hari sebenarnya memiliki sisi positif dan negatif yang bergantung pada jenis asupan serta kondisi fisik masing-masing individu.

Bacaan Lainnya

Pakar kesehatan mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur porsi serta jenis makanan yang dikonsumsi menjelang waktu tidur guna menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Kebaikan Makan di Atas Jam 7 Malam

Meski sering dihindari, makan malam setelah pukul 19.00 WIB tetap memberikan sejumlah manfaat kesehatan apabila dilakukan dengan pilihan menu yang tepat:

  1. Membantu Pemulihan Energi setelah Beraktivitas: Bagi pekerja malam atau individu yang melakukan olahraga pada sore hari, asupan nutrisi di malam hari sangat penting untuk mengisi kembali cadangan glikogen dan memperbaiki jaringan otot yang lelah.
  2. Mencegah Terbangun akibat Kelaparan: Mengonsumsi makanan ringan berprotein tinggi sebelum tidur dapat menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga mencegah rasa lapar yang berpotensi mengganggu kualitas tidur malam.

  3. Mendukung Metabolisme Otot: Karbohidrat kompleks dan protein yang dikonsumsi dalam porsi kecil pada malam hari dapat membantu proses sintesis protein otot secara optimal sepanjang malam.

Keburukan dan Risiko Kesehatan

Di sisi lain, kebiasaan makan terlalu larut malam tanpa kontrol dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang perlu diwaspadai:

  1. Meningkatkan Risiko Gangguan Pencernaan: Mengonsumsi makanan berat dalam waktu dekat sebelum tidur dapat memperlambat proses pencernaan serta memicu asam lambung naik (GERD) dan sensasi dada terbakar (heartburn).

  2. Memicu Kenaikan Berat Badan: Metabolisme tubuh cenderung melambat pada malam hari. Asupan kalori berlebih yang tidak terpakai akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak, yang berpotensi menyebabkan obesitas.

  3. Mengganggu Kualitas Tidur: Proses cerna yang aktif saat tubuh beristirahat dapat membuat tidur menjadi kurang nyenyak dan menyebabkan tubuh terasa lelah saat bangun di pagi hari.

Panduan Bijak Menyikapi Asupan Malam Hari

Para ahli gizi menyarankan agar jeda antara waktu makan terakhir dan waktu tidur idealnya berkisar antara 2 hingga 3 jam.

Jika terpaksa harus makan di atas jam 7 malam, pilihlah makanan ringan yang mudah dicerna seperti buah-buahan, yoghurt, atau rebusan sayur, serta hindari makanan berlemak tinggi, pedas, maupun berkafein guna menjaga stabilitas organ pencernaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *