RISKS.ID – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menyebut penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) mendorong optimisme kegiatan bisnis di Pulau Dewata.
Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 124,2 atau tumbuh secara tahunan 6,5 persen dan masih berada di level optimistis.
“Indeks penjualan riil sebesar 124,2 yang tumbuh secara tahunan sebesar 6,5 persen dan masih berada di level optimis,” kata dia, Jumat (20/2/2026).
Secara bulanan, kinerja penjualan eceran per Januari 2026 berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali juga tumbuh 0,9 persen. Pertumbuhan ini diiringi optimisme pelaku usaha setelah penurunan harga BBM jenis Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350 per liter.
Berdasarkan survei bank sentral, pelaku usaha meyakini terdapat dorongan belanja masyarakat seiring kenaikan UMK sebesar tujuh persen di seluruh wilayah Bali.
Survei bulanan tersebut dilakukan BI terhadap 100 penjual eceran di Kota Denpasar dan sekitarnya untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Erwin menjelaskan, penjualan obat-obatan dan vitamin mengalami kenaikan permintaan akibat peralihan cuaca, sehingga harga komoditas tersebut turut meningkat.
Pelaku usaha peralatan sekolah juga menunjukkan optimisme penjualan karena momentum peralihan tahun ajaran baru.
BI mencatat terdapat enam subsektor pembentuk IPR. Pertumbuhan bulanan tertinggi terjadi pada kategori Barang Lainnya, meliputi farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia rumah tangga yang meningkat 3,2 persen.
Kemudian, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor naik 3,2 persen, Sandang meningkat 2,6 persen, serta Peralatan Informasi dan Komunikasi tumbuh 2,3 persen.
Selain itu, Barang Budaya dan Rekreasi seperti alat tulis dan alat olahraga naik 2,3 persen, sementara Makanan, Minuman, dan Tembakau meningkat 1,4 persen.
Menurut dia, pertumbuhan IPR tersebut menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih berada dalam tren positif.
Sementara itu, indeks ekspektasi penjualan (IEP) dalam tiga bulan ke depan atau Maret 2026 diperkirakan sebesar 126, lebih rendah dibandingkan IEP Februari 2026 sebesar 164.
Adapun penjualan dalam enam bulan ke depan atau Juni 2026 diperkirakan tetap berada pada level optimistis sebesar 184, lebih tinggi dari IEP Mei 2026 sebesar 176.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, BI masih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,75 persen per Februari 2026.
Di sisi lain, dia mengatakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali mengakselerasi pasar murah menjelang libur Imlek, Ramadhan, dan Nyepi untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis.






