RISKS.ID – PT Astra International Tbk (ASII) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut turun tipis 2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan pendapatan bersih Rp328,5 triliun pada 2024.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, perseroan mencatat laba bersih Rp32,8 triliun pada 2025, atau turun 3 persen (yoy) dari Rp33,9 triliun pada tahun sebelumnya.
Presiden Direktur ASII Djony Bunarto Tjondro mengatakan, penurunan laba terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara serta lesunya pasar mobil baru sepanjang tahun lalu.
“Pada 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Djony dalam keterangan resminya, Jumat (27/2/2026).
Ke depan, dia memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik, meskipun kondisi operasional di beberapa lini usaha masih menghadapi tantangan.
“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” kata dia.
Dalam agenda korporasi, perseroan akan mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham untuk tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April 2026.
Jika digabungkan dengan dividen interim sebesar Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, total dividen yang diusulkan mencapai Rp390 per saham dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48 persen.
Pada Januari 2026, perseroan juga telah menyelesaikan program pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp2 triliun. Selanjutnya, perseroan melaksanakan buyback tahap kedua yang rampung pada 25 Februari 2026 dengan nilai keseluruhan Rp685 miliar.
“Pada program tersebut, saham telah dibeli kembali sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan,” ujar dia.
Dari sisi kinerja per saham, laba bersih per saham tercatat Rp810 pada 2025, turun tipis dibandingkan Rp837 pada 2024.
Sementara itu, dari sisi neraca, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp228,9 triliun pada 2025, dibandingkan Rp213,7 triliun pada 2024.






