Rupiah Tertekan Isu Geopolitik Iran-AS dan Ketidakpastian The Fed, Ditutup di Rp16.787 per Dolar AS

nilai tukar rupiah
Foto ilustrasi: Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat (27/2/2026), bergerak melemah 28 poin atau sekitar 0,17 persen menjadi Rp16.787 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.759 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Bacaan Lainnya

“Ketegangan geopolitik terkait Iran menjadi pendorong utama minggu ini, karena Washington mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dia menyampaikan bahwa pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada Kamis (26/2/2026) tanpa kesepakatan yang jelas.

Meski demikian, kedua pihak mengisyaratkan akan segera melanjutkan negosiasi. Diskusi tingkat teknis juga dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina, sebagaimana disampaikan mediator Oman.

Selain faktor geopolitik, ketidakpastian perekonomian AS turut menjadi sentimen negatif di pasar keuangan. Hal ini terutama terjadi setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden AS, Donald Trump.

Trump kemudian merespons dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum berbeda dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan ekonomi lanjutan akibat kebijakan tarif tersebut.

Di sisi lain, pasar juga tengah menilai kembali arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, yang masih dibayangi kekhawatiran inflasi tinggi.

“Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April,” ujar dia.

Sementara itu, peluang penurunan suku bunga pada Juni yang sebelumnya dinilai sebagai waktu paling mungkin bagi The Fed untuk kembali melonggarkan kebijakan, kini dinilai semakin tidak pasti.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini melihat pertemuan Juli sebagai waktu yang lebih berpeluang untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas sekitar 66 persen.

Dari sentimen domestik, AS juga secara resmi mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Secara rinci, AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 104,38 persen untuk impor produk tersebut dari Indonesia.

Adapun kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat (27/2/2026) turut melemah ke level Rp16.779 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.758 per dolar AS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *