RISKS.ID – Perlambatan industri properti nasional ternyata tidak mengurangi minat investor untuk mengembangkan aset melalui konsep hunian co-living. Di tengah penurunan penjualan rumah secara nasional, segmen ini justru mencatat peningkatan permintaan dari pemilik aset yang mencari sumber pendapatan lebih stabil.
Penyedia hunian co-living modern, Cove, melaporkan minat konversi aset menjadi co-living meningkat sekitar 40% pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut mencerminkan pergeseran strategi investor yang mulai memanfaatkan aset tidak produktif sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo, mengatakan tren tersebut mendorong perusahaan menghadirkan layanan konsultasi pembangunan co-living untuk membantu pemilik aset yang ingin memasuki bisnis ini.
“Cove meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living setelah melihat banyaknya pemilik aset yang tertarik dengan ketangguhan lini bisnis ini, namun belum berpengalaman untuk memulai. Mereka tahu bahwa hunian tetap menjadi kebutuhan primer, dan fleksibilitas komitmen finansial yang ditawarkan co-living sangat relevan dengan daya beli masyarakat saat ini,” ujar Rizky Kusumo.
Menurutnya, kinerja bisnis Cove tetap menunjukkan pertumbuhan positif meski pasar properti masih menghadapi tekanan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, perusahaan berhasil menambah hampir 1.000 kamar co-living baru di Indonesia dengan tingkat hunian rata-rata mencapai 85%.
“Bahkan di tengah kondisi industri yang cukup pesimis, Cove justru mencatatkan penambahan hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia pada semester I 2026, dengan rata-rata occupancy rate sebesar 85 persen,” kata Rizky.
Data internal perusahaan menunjukkan sekitar 70% permintaan konsultasi berasal dari pemilik lahan kosong yang ingin mengoptimalkan aset keluarga yang belum dimanfaatkan. Sementara itu, sisanya berasal dari pemilik ruko yang mulai mengalihkan propertinya menjadi hunian sewa karena dinilai memiliki prospek pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Cove juga melihat semakin banyak investor mengadopsi konsep co-living hybrid yang menggabungkan penyewaan bulanan dan harian. Skema tersebut dinilai mampu meningkatkan potensi pendapatan karena dapat melayani penyewa jangka panjang sekaligus wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis.
Dari sisi lokasi, Jakarta masih menjadi pasar paling diminati. Permintaan konsultasi di ibu kota tercatat sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan Surabaya. Kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua area favorit pengembangan, sementara salah satu proyek hasil konsultasi, Cove Dra House di Menteng, hingga kini masih mempertahankan tingkat hunian di atas 80%. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis co-living tetap memiliki prospek yang kuat sebagai alternatif investasi di tengah perlambatan sektor properti nasional.






