RISKS.ID – Laju industri fast moving consumer goods (FMCG) pada kanal digital nasional mencatatkan performa impresif. Berdasarkan riset terbaru, nilai transaksi sektor ini berhasil menembus angka Rp88,4 triliun pada paruh pertama tahun ini. Capaian tersebut menandai pertumbuhan agresif sebesar 29,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan yang signifikan ini ditopang oleh kenaikan volume permintaan konsumen secara luas, bukan sekadar imbas dari inflasi harga barang. Kategori Homecare tampil sebagai penggerak utama dengan lonjakan nilai penjualan mencapai 78,3 persen. Sektor Food & Beverages turut menyokong pertumbuhan dengan kenaikan sebesar 52,1 persen. Momentum Ramadan dan perayaan Lebaran terbukti menjadi pemicu utama melesatnya transaksi berbagai produk kebutuhan harian.
Kondisi tersebut menunjukkan indikasi positif bagi ekosistem perdagangan elektronik di Indonesia. “Pertumbuhan pasar FMCG e-commerce Indonesia di Semester 1 2026 bukan sekadar angka saja, tapi juga sinyal pasar sedang dalam fase ekspansi yang sehat,” ujar Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id.
Dari sisi konsolidasi platform, pasar kini makin terpusat pada dua pemain besar, yakni Shopee dan ShopTokopedia. Keduanya secara total menguasai hampir 99 persen pangsa pasar FMCG digital. Kendati demikian, peta persaingan antar-merek di dalam platform justru berlangsung makin sengit. Dominasi pertumbuhan masih dipegang oleh pemain lama, sementara ribuan merek baru terus berdatangan memperebutkan ceruk pasar.
“Brand yang ingin tumbuh di Semester 2 2026 perlu memiliki pendekatan yang berbeda untuk masing-masing platform,” tambah Hanindia. Kejelian membaca perilaku konsumen di tiap kanal digital diproyeksikan menjadi kunci utama bagi para pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan bisnis pada paruh kedua tahun ini.






