RISKS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (7/10/2026).
IHSG anjlok 46,21 poin atau 0,75 persen ke level 6.146 setelah melaju di rentang 6.136 hingga 6.214 dengan total nilai transaksi mencapai Rp8,50 triliun.
Pelemahan indeks terutama dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) investor setelah saham-saham utama mencatatkan kenaikan beruntun dalam dua hari sebelumnya.
Penurunan IHSG juga sejalan dengan tren pelemahan di hampir seluruh bursa saham kawasan Asia.
Tekanan terbesar datang dari koreksi sejumlah saham bobot besar, antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merosot 6,69 persen, PT Bank Amar Indonesia Tbk (UANG) turun 13,19 persen, serta PT United Tractors Tbk (UNTR) yang melemah 2,50 persen.
Selain itu, saham MORA melemah 2,23 persen dan DSSA tergerus 3 persen.
Hampir seluruh sektor saham bergerak di zona merah. Sektor energi memimpin penurunan sebesar 1,56 persen, disusul sektor barang baku turun 1,15 persen, sektor perindustrian turun 1,11 persen, serta sektor barang konsumen primer yang melemah 1,21 persen.
Sektor properti, teknologi, infrastruktur, hingga transportasi turut mengalami tekanan. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang bertahan dengan menguat tipis 0,02 persen.
Di tengah tekanan indeks, beberapa saham mencatatkan lompatan harga signifikan (top gainers).
Saham AKKU melesat 33,96 persen ke Rp71, ASMI naik 33,33 persen ke Rp44, PGLI menguat 24,53 persen ke Rp396, MPXL naik 20,61 persen ke Rp316, dan INCI melonjak 20,59 persen ke Rp1.025.
Sehari sebelumnya, IHSG sempat rebound 1,21 persen ke level 6.192,93 setelah menguji level psikologis 6.000.
Namun, aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp597 miliar menunjukkan tren pemulihan pasar masih memerlukan konfirmasi aliran modal asing yang lebih solid.






