RISKS.ID – Pagi itu, di salah satu kelas Sekolah Dasar Negeri 6 Denpasar tampak berbeda. Di bawah langit Bali yang cerah, puluhan siswa berseragam kaos olahraga warna merah putih duduk berbaris rapi.
Mereka menutup mata, menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya dengan tenang. Tidak ada suara riuh khas anak-anak sebelum bel masuk. Yang terdengar justru instruksi lembut, menenangkan, sekaligus penuh semangat.
Inilah potret kegiatan yoga yang rutin dilakukan sebelum proses belajar mengajar dimulai di sekolah itu.
Yoga kini menjadi bagian dari denyut keseharian SDN 6 Denpasar. Bukan sekadar olahraga pagi, tetapi ruang belajar kehidupan yang menanamkan kesadaran tubuh, ketenangan pikiran, dan kebahagiaan sejak usia dini.
Anak-anak diajak mengenal tubuh dan perasaannya sendiri, sebelum mereka mengenal angka, huruf, dan pelajaran di dalam kelas.
Di balik kegiatan tersebut, ada sosok Rista Supeni. Dia adalah guru sekaligus yogist yang dengan penuh dedikasi memperkenalkan yoga kepada anak-anak sekolah dasar. Bagi Rista Supeni, yoga bukan sesuatu yang rumit atau eksklusif. Yoga adalah cara sederhana untuk membuat anak-anak lebih siap menghadapi hari.
“Banyak manfaat yang diperoleh anak-anak dari yoga sebelum belajar mengajar. Tubuh mereka lebih segar, pikiran lebih tenang, dan fokus belajar meningkat,” ujar Rista Supeni kepada RISKS.ID, Selasa (06/01/2026).
Menurut dia, yoga anak dirancang dengan pendekatan yang menyenangkan. Gerakan disesuaikan dengan dunia anak-anak, sering kali diadaptasi dari cerita, hewan, atau permainan. Anak-anak tidak merasa sedang “berlatih”, melainkan bermain sambil bergerak.
“Dari situlah manfaat yoga perlahan tumbuh dan mengakar,” kata perempuan asal Kota Kediri, Jawa Timur itu.
Secara fisik, yoga membantu memperkuat otot, tulang, dan sendi anak-anak. Gerakan yang dilakukan melatih kelenturan tubuh, keseimbangan, serta koordinasi.
Anak-anak belajar menjaga postur agar tetap tegak, tidak mudah membungkuk, sekaligus mengasah keterampilan motorik kasar dan halus yang penting dalam aktivitas sehari-hari.
Latihan pernapasan juga menjadi bagian penting. Anak-anak diajak menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Teknik sederhana ini membantu meningkatkan asupan oksigen, melancarkan sirkulasi darah, serta memberi efek relaksasi alami pada tubuh.
Namun, manfaat yoga tidak berhenti pada kesehatan fisik. Rista Supeni menekankan, dampak terbesar justru terlihat pada sisi mental dan emosional anak-anak.
Menurutnya, yoga membantu mereka meningkatkan fokus dan konsentrasi saat belajar. Anak-anak menjadi lebih tenang, tidak mudah gelisah, dan mampu memperhatikan pelajaran dengan lebih baik.
“Yoga mengajarkan anak-anak cara menenangkan diri. Saat mereka merasa cemas atau tertekan, teknik pernapasan yang dipelajari bisa langsung digunakan,” kata perempuan yang akrab disapa Peni itu.
Melalui latihan yang konsisten, rasa percaya diri anak-anak juga tumbuh. Mereka belajar bahwa setiap gerakan membutuhkan proses dan kesabaran. Ketika berhasil melakukan satu pose, muncul rasa bangga pada diri sendiri. Perlahan, mereka belajar menghargai usaha, bukan sekadar hasil.
Yoga juga berdampak pada kualitas tidur. Anak-anak yang rutin berlatih cenderung lebih mudah tidur nyenyak dan bangun dengan perasaan segar. Dengan tubuh dan pikiran yang lebih seimbang, pengaturan emosi pun menjadi lebih baik.
Anak-anak lebih mampu mengenali perasaannya, mengekspresikan emosi secara sehat, dan tidak mudah meledak-ledak.
Tak kalah penting, kata Peni, yoga membuka ruang kreativitas. Gerakan yang terinspirasi dari cerita dan imajinasi membuat anak-anak bebas berekspresi. Mereka belajar bergerak, bercerita, dan berimajinasi dalam satu rangkaian kegiatan.
Dari sisi kognitif dan pembentukan karakter, yoga menjadi sarana pembelajaran yang utuh. Gerakan sering dipadukan dengan lagu dan cerita, sehingga membantu perkembangan bahasa dan pembelajaran kinestetik.
Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan toleransi juga ditanamkan secara alami melalui kebiasaan berlatih bersama.
“Manfaat untuk pelajar tentunya meliputi peningkatan fokus dan konsentrasi, pengurangan stres dan kecemasan, perbaikan kesehatan fisik seperti postur dan kekuatan otot, serta peningkatan kualitas tidur. Semua itu sangat mendukung prestasi akademis dan kesejahteraan mental-emosional secara keseluruhan,” tutur Rista Supeni.
Dampak yoga juga dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satunya adalah Wayan, siswa SDN 6 Denpasar. Dengan polos dan jujur, dia mengaku merasakan perubahan sejak rutin mengikuti yoga di sekolah.
“Sejak ikut yoga, saya jadi lebih semangat belajar. Badan terasa lebih segar dan merasa lebih sehat,” ujar Wayan sambil tersenyum.
Cerita Wayan menjadi gambaran kecil dari perubahan besar yang terjadi. Yoga bukan hanya membuat anak-anak bergerak, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan baik yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, SDN 6 Denpasar menanamkan satu pelajaran sederhana namun bermakna: mengenal diri sendiri, bernapas dengan sadar, dan menjalani hari dengan seimbang.
Di salah satu kelas sekolah itu, yoga bukan sekadar gerakan. Dia adalah bahasa cinta pada tubuh dan jiwa, yang diajarkan sejak dini. Sebuah investasi sunyi untuk generasi yang lebih sehat, tenang, dan berkarakter.






