Seni Menghisap Cerutu: Soal Waktu, Rasa, dan Kenangan

menyalakan cerutu

RISKS.ID – Sore itu, matahari merayap turun di balik gedung-gedung bengkel milik Akbar (karena alasan privasi, dia meminta disebut Akbar saja) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Aroma oli dan besi yang biasa memenuhi hari-harinya perlahan berganti dengan wangi tembakau yang hangat dan manis.

Di teras kantornya yang luas, pengusaha otomotif dan juga mantan seorang pembalap itu duduk tenang, menggenggam sebatang cerutu berwarna cokelat gelap. Gerakannya pelan, nyaris seperti ritual.

Bacaan Lainnya

“Bagi saya, cerutu itu bukan rokok,” ujarnya sambil mencium sebatang cerutu di ujung hidungnya. “Ini soal waktu, soal rasa, soal kenangan,” tambah Akbar.

Akbar mengenal cerutu dari almarhum ayahnya. Sejak kecil, dia kerap melihat sosok pria yang menjadi panutannya itu duduk di kursi rotan, cerutu terselip di antara jari, menghembuskan asap perlahan sembari berbicara tentang kehidupan.

“Ayah selalu bilang, cerutu itu teman berpikir. Jangan terburu-buru. Nikmati prosesnya, perlahan-lahan,” kenangnya.

Kini, puluhan tahun kemudian, kebiasaan itu menjadi bagian dari identitas Akbar. “Gue punya banyak koleksi cerutu, bahkan ada yang harganya di atas Rp50 juta,” katanya bangga sambil menunjukkan cerutu Cohiba Genios Maduros.

Bagi Akbar, memperlakukan cerutu tidak bisa sembarangan. Dia memulai dengan memilih batang yang tepat, memperhatikan warna wrapper (daun pembungkus luar), tekstur, dan aroma keringnya.

Cerutu yang baik, menurutnya, terasa padat tapi lentur saat ditekan ringan. “Elo bro, memperlakukan cerutu sama seperti saat Elo mau ML (making love). Istimewakan dia dulu sebelum Elo nikmati,” kata Akbar berkelakar tapi serius.

Langkah berikutnya adalah memotong ujung kepala cerutu dengan cutter tajam. “Potong secukupnya saja. Kalau terlalu dalam, cerutu bisa rusak dan rasanya berubah,” jelasnya.

Setelah itu, dia melakukan proses toasting, yaitu memanaskan bagian kaki cerutu tanpa langsung mengisapnya. Api didekatkan perlahan sambil cerutu diputar agar pembakaran merata. “Jangan langsung dibakar seperti rokok. Ini bukan soal cepat menyala, tapi soal membuka rasa. Sama saat Elo membuka pakaian pasangan ML Elo hahaha…,” kata Akbar.

Saat akhirnya dia mulai mengisap, ritmenya pelan. Satu hisapan tiap 30 hingga 60 detik. Cerutu tidak dihirup ke paru-paru, melainkan dinikmati di rongga mulut untuk merasakan kompleksitas rasa. Umumnya ada rasa kayu, cokelat, kopi, rempah, bahkan kadang sentuhan manis seperti karamel.

“Cerutu itu seperti wine. Setiap bagian ada fasenya. Awal, tengah, dan akhir rasanya bisa berbeda,” kata Akbar.

Di ruang kerja Akbar, terdapat sebuah humidor kayu besar dengan lapisan cedar Spanyol di bagian dalam. Di situlah koleksi cerutunya disimpan.

Cerutu idealnya disimpan pada kelembapan 65–72 persen dengan suhu sekitar 18–21 derajat Celsius. Tanpa kondisi itu, cerutu bisa mengering atau justru berjamur.

“Kalau terlalu kering, rasanya jadi panas dan pahit. Kalau terlalu lembap, pembakarannya tidak bagus,” ujarnya.

Akbar rutin memeriksa hygrometer untuk memastikan kelembapan stabil. Ia juga membalik posisi cerutu setiap beberapa minggu agar distribusi kelembapan merata. “Ini seperti merawat mesin klasik. Detail kecil menentukan kualitas,” katanya.

Dalam koleksinya, Akbar menyimpan berbagai cerutu impor. Salah satu yang kerap ia nikmati adalah dari Kuba, seperti Cohiba dan Montecristo. Merek-merek ini dikenal memiliki sejarah panjang dan konsistensi rasa yang terjaga.

Untuk satu batang Cohiba Siglo II, harga di pasar internasional bisa mencapai kisaran Rp650 ribu hingga Rp850 ribu per batang, tergantung pajak dan distribusi. Sementara varian premium edisi terbatas bisa menembus jutaan rupiah.

Dari Republik Dominika, Akbar mengaku menyukai Arturo Fuente, khususnya seri OpusX yang terkenal dengan profil rasa kompleks dan produksi terbatas. Harga satu batangnya dapat berkisar antara Rp900 ribu hingga di atas Rp2 juta di pasar impor.

Cerutu luar negeri, menurut Akbar, unggul dalam hal konsistensi campuran tembakau (blend), standar produksi yang sangat ketat, reputasi global dan nilai koleksi, dan kompleksitas rasa berlapis

“Kalau bicara sejarah dan prestise, Kuba masih jadi kiblat,” katanya.

Namun Akbar tidak menutup mata terhadap kualitas dalam negeri. Indonesia, khususnya daerah Jember di Jawa Timur, dikenal sebagai penghasil tembakau Besuki yang banyak diekspor sebagai bahan wrapper cerutu premium dunia.

Beberapa merek lokal yang ia koleksi antara lain, Boslucks, Borobudur Cigars, dan Archipelago Cigars. 

Harga cerutu lokal relatif lebih terjangkau, mulai dari Rp60 ribu hingga Rp200 ribu per batang untuk kelas premium. Satu boks isi 10 bisa berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2 juta, tergantung seri.

Keunggulan cerutu lokal, menurutnya harga yang kompetitif, karakter rasa unik dengan sentuhan tanah tropis, bahan baku berkualitas ekspor, dan potensi berkembang besar di pasar global.

“Kadang orang gengsi pakai lokal. Padahal tembakau kita dipakai juga untuk cerutu luar negeri,” ujarnya sambil terkekeh.

Di tengah dunia otomotif yang keras dan penuh tekanan, cerutu menjadi ruang jeda bagi Akbar. Dia tidak menghisapnya setiap hari. Hanya pada momen tertentu, setelah proyek besar selesai, atau saat ingin mengenang ayahnya.

Baginya, cerutu adalah simbol kesabaran. Tidak bisa dinikmati sambil terburu-buru. Tidak cocok bagi mereka yang ingin cepat selesai.

“Cerutu mengajarkan saya satu hal,” katanya menutup percakapan sore itu. “Dalam hidup, yang paling mahal bukan barangnya. Tapi waktu yang kita berikan untuk menikmatinya. Bener gak bro?,” katanya.

Asap terakhir melayang pelan, membaur dengan langit senja. Dan di ujung bara yang menyala, tersimpan kenangan, tradisi, dan filosofi yang tak lekang oleh waktu. “Cobalah bro, Elo akan merasakan nikmatnya cerutu, sama seperti saat Elo mencapai puncak bersama pasangan Elo,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *