Kredit Perbankan Maret 2026 Tumbuh 9,49 Persen, BI: Sinyal Pemulihan Ekonomi Terjaga

bank indonesia
Bank Indonesia. Foto: eastasiaforum

RISKS.ID – Pertumbuhan kredit perbankan terus menunjukkan tren positif. Perry Warjiyo mengungkapkan, kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 9,37 persen yoy.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22 April 2026), dia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut ditopang oleh seluruh kelompok penggunaan kredit. Kredit investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 20,85 persen yoy, diikuti kredit modal kerja sebesar 4,38 persen yoy, serta kredit konsumsi 5,88 persen yoy.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, minat penyaluran kredit perbankan sejatinya masih cukup baik. Hal itu tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang relatif longgar. Meski demikian, terdapat pengecualian pada segmen kredit konsumsi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa penguatan pertumbuhan kredit terus dilakukan guna menopang ekspansi ekonomi nasional. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada dalam kisaran 8 hingga 12 persen, dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dinilai masih bisa ditingkatkan. Salah satunya dengan mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan), yang nilainya mencapai Rp2.527,46 triliun atau setara 22,59 persen dari total plafon kredit.

Sementara itu, dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan perbankan tetap solid. Hal ini didukung rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,85 persen, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih tinggi, yakni 13,55 persen yoy pada Maret 2026.

Ke depan, dia menyatakan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk melalui pengembangan instrumen nontraditional funding atau non-DPK. Langkah ini diharapkan mampu mendorong penyaluran kredit lebih optimal.

“Koordinasi dengan pemerintah dan KSSK terus diperkuat untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit maupun pembiayaan perbankan,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *