RISKS.ID – Frontotemporal Dementia (FTD) menjadi salah satu penyakit saraf yang mulai banyak diperbincangkan masyarakat dunia. Penyakit ini merupakan jenis demensia yang menyerang bagian depan dan samping otak, tepatnya lobus frontal serta temporal. Berbeda dengan Alzheimer yang identik dengan gangguan daya ingat, FTD lebih sering memengaruhi perilaku, emosi, hingga kemampuan berbicara penderitanya.
FTD umumnya muncul pada usia yang lebih muda dibandingkan jenis demensia lainnya, yakni sekitar usia 40 hingga 65 tahun. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan dan sering kali sulit dikenali pada tahap awal. Banyak penderita awalnya dianggap mengalami perubahan kepribadian biasa atau gangguan psikologis.
Gejala Frontotemporal Dementia cukup beragam tergantung bagian otak yang terdampak. Pada beberapa kasus, penderita mengalami perubahan perilaku drastis seperti kehilangan empati, mudah marah, bertindak impulsif, hingga sulit bersosialisasi. Sementara pada tipe lain, penderita mengalami gangguan bahasa seperti kesulitan berbicara, memahami kata, atau menyusun kalimat.
Penyebab pasti FTD hingga kini masih terus diteliti para ahli. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya kaitan dengan faktor genetik dan kerusakan protein tertentu di dalam otak. Meski demikian, tidak semua penderita memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
Beberapa publik figur dunia diketahui pernah menderita Frontotemporal Dementia. Aktor Hollywood Bruce Willis menjadi salah satu sosok yang cukup menyita perhatian publik setelah keluarganya mengumumkan diagnosis FTD pada 2023. Sebelumnya, Bruce Willis lebih dulu mengalami gangguan komunikasi yang dikenal sebagai afasia sebelum akhirnya terdiagnosis penyakit tersebut.
Selain Bruce Willis, musisi dan penulis lagu asal Amerika Serikat, Glen Campbell, juga pernah dikaitkan dengan gangguan neurodegeneratif yang memengaruhi fungsi otaknya. Beberapa tokoh publik lainnya turut meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan dini terhadap gangguan saraf dan demensia.
Hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan Frontotemporal Dementia. Pengobatan yang diberikan biasanya bertujuan membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Dukungan keluarga, terapi bicara, serta pendampingan psikologis menjadi bagian penting dalam penanganan penderita FTD.
Para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada apabila menemukan perubahan perilaku atau kemampuan komunikasi yang tidak biasa pada anggota keluarga, terutama di usia produktif. Pemeriksaan medis sejak dini dinilai dapat membantu memperlambat perkembangan gejala sekaligus memberikan penanganan yang lebih tepat bagi penderita Frontotemporal Dementia.






