Siasat Phapros Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku Obat Impor Imbas Dolar Perkasa

pabrik obat

RISKS.ID –  PT Phapros Tbk bergerak cepat menyiapkan sejumlah strategi jitu untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku obat. Langkah ini diambil seiring dengan memanasnya situasi geopolitik global dan penguatan nilai tukar dolar AS yang kian menekan mata uang Rupiah.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM PT Phapros, Ferdinand Troedu, mengakui bahwa tekanan ekonomi ini tidak hanya memukul industri farmasi, melainkan hampir seluruh sektor industri secara umum.

Bacaan Lainnya

“Untuk Phapros, kami melihat dampaknya sudah ada dan memang terjadi, di mana sebagian bahan baku kami mayoritas masih impor,” ujar Ferdinand dalam acara media gathering Phapros bertema “Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi” di Semarang, Sabtu (20/6/2026).

Dia menjelaskan bahwa bahan baku impor tersebut terbagi menjadi dua kategori, yakni langsung dan tidak langsung. Keduanya saat ini sama-sama mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.

Tiga Strategi Andalan Phapros

Untuk menjamin stabilitas bisnis dan pasokan obat di tanah air, Ferdinand membeberkan tiga langkah taktis yang tengah ditempuh perusahaan:

  • Renegosiasi dan Reprofiling Supplier: Langkah langsung yang diambil adalah menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok bahan baku. Dia menyebut renegosiasi harga bisa dilakukan lewat skema kontrak jangka panjang (long term contract) atau dengan meningkatkan volume kontrak kerja sama.

  • Mencari Alternatif Pemasok: Phapros mulai membuka opsi kerja sama dengan vendor baru. “Kami juga mencari alternatif sumber pemasok yang lain. Jadi, kami mencari pilihan alternatif supaya ada daya tawar-menawar,” jelas dia.

  • Efisiensi Jalur Produksi: Perusahaan terus melakukan efisiensi di ruang produksi. Namun, dia menekankan bahwa efisiensi ini bukan berarti memangkas volume produksi, melainkan optimalisasi proses kerja agar biaya operasional dapat ditekan seminimal mungkin.

Lampu Hijau Kemenkes dan Dorongan TKDN

Di sisi lain, Direktur Produksi PT Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, menambahkan bahwa kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) cukup memberikan angin segar bagi pelaku industri farmasi domestik dalam menghadapi guncangan global.

“Kementerian Kesehatan menyampaikan kenaikan harga obat 10-20 persen masih bisa diterima. Artinya, itu level acceptance pemerintah menyikapi situasi konflik geopolitik maupun kenaikan dolar. Jadi, kami sangat mendukung itu,” tutur Ida.

Selain penyesuaian harga, Phapros juga terus memaksimalkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) demi memutus ketergantungan pada rantai pasok impor. Salah satu contoh konkretnya adalah pengalihan bahan baku garam atau NaCl.

“Kalau mau bikin Oralit, garam NaCl-nya dulu impor. Sekarang pemerintah menguatkan TKDN dan mendukung produsen bahan baku dalam negeri. Untuk Phapros, semua produk yang menggunakan NaCl sudah ganti ke lokal,” tegas dia.

Sebagai informasi, PT Phapros Tbk saat ini memegang peran krusial dalam ekosistem farmasi nasional. Sebanyak 56,7 persen saham Phapros dimiliki langsung oleh PT Kimia Farma Tbk sebagai pemegang saham mayoritas. Menjadi bagian dari Kimia Farma Group, Phapros secara otomatis terintegrasi dalam holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh Bio Farma.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *