RISKS.ID – Fenomena hawa dingin menusuk tulang tengah melanda wilayah Kediri dan sekitarnya beberapa hari terakhir. Suhu udara yang merosot drastis terutama pada malam hingga pagi hari membuat masyarakat setempat terpaksa merubah pola aktivitas harian mereka demi menahan dingin.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Dio Tanding, warga Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Dia mengaku hawa dingin saat pagi hari membuatnya enggan menyentuh air untuk bersuci maupun mandi.
“Kalau pagi gak berani mandi. Rasanya kayak di Bandung, peh uademe pol (dingin banget),” ungkap Dio saat mengeluhkan kondisi cuaca yang terjadi belakangan ini, Sabtu (25/7).
Keluhan serupa disampaikan Teguh Yulianto, warga Bandar Kidul, Kota Kediri. Dia memilih untuk membatasi kegiatan di luar rumah begitu matahari terbenam untuk menghindari terpaan angin dingin.
“Saya memilih mengurangi aktivitas malam hari. Karena dingin pol fren,” tuturnya.
Sementara itu, Bambang Hari, warga lainnya menyiasati hawa dingin dengan meracik minuman hangat. Empon-empon menjadi pilihan warga Ngadiluwih ini untuk menghangatkan tubuhnya.
“Pakai jahe, temulawak, kunyit dan batang sereh. Kita kasih madu dan air panas,” kata Bambang.
Menurut keterangan resmi dari Diskominfo Kota Kediri, wilayah yang dijuluki Kota Tahu ini memang sedang dilanda fenomena bediding. Fenomena ini ditandai dengan penurunan suhu udara secara drastis pada malam hingga pagi hari yang disebabkan oleh pergerakan angin Monsun Australia serta kondisi langit yang cerah tanpa awan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya ada tiga faktor utama yang menjadi pemicu munculnya fenomena bediding di Kediri:
-
Angin Monsun Australia: Adanya tiupan angin timuran yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa.
-
Puncak Musim Kemarau: Kediri saat ini tengah berada pada periode musim kemarau, sehingga kondisi udara secara umum menjadi lebih kering dari biasanya.
-
Minimnya Tutupan Awan: Kondisi langit yang cerah dan tanpa awan membuat radiasi panas dari permukaan bumi langsung terpancar lepas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada pelepasan yang tertahan, sehingga suhu permukaan turun sangat cepat.






