BMKG Peringatkan Potensi Hujan di Sejumlah Daerah Imbas Bibit Siklon Tropis 94W

hujan deras

RISKS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan keberadaan bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik utara Papua Barat berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat (31/7).

Dalam prakiraan cuaca yang disampaikan dari Jakarta, BMKG menyebutkan bahwa bibit Siklon Tropis 94W diprediksi berada di Samudra Pasifik utara Papua Barat. Bibit siklon ini bergerak ke arah barat dengan kecepatan angin maksimum 15 knot serta tekanan udara minimum 1.008 mb.

Bacaan Lainnya

Prakirawan BMKG Ina Indah menjelaskan bahwa keberadaan bibit siklon tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Laut Filipina dan di sekitar pusat bibit siklon.

Selain dampak bibit siklon, daerah perlambatan angin atau konvergensi diprakirakan terbentuk di hampir sebagian besar wilayah Indonesia, membentang dari Pulau Sumatera hingga Papua. Sementara itu, daerah pertemuan angin atau konfluensi diprediksi terbentuk di Selat Malaka, Laut China Selatan, serta Samudra Pasifik utara Papua.

Kondisi dinamika atmosfer tersebut dinilai BMKG berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sekitar lokasi bibit siklon maupun di sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi.

Berdasarkan prakiraan cuaca di kota-kota besar Indonesia, hujan dengan intensitas ringan berpotensi mengguyur Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Tanjung Selor, Mamuju, Palu, Manokwari, Nabire, Wamena, hingga Merauke.

Di sisi lain, kondisi cuaca cerah berawan hingga berawan tebal diprakirakan terjadi di Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Jakarta, Semarang, Pontianak, Palangka Raya, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Kupang, Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, dan Jayapura.

BMKG juga mengidentifikasi potensi udara kabur di wilayah Bengkulu, Yogyakarta, dan Surabaya. Sementara itu, kondisi asap atau kabut diperkirakan akan menyelimuti Padang, Mataram, dan Sorong.

Melihat kondisi cuaca yang dinamis, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui dan memantau informasi cuaca terkini melalui laman resmi maupun kanal media sosial resmi lembaga tersebut demi mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas harian.

Di luar prakiraan cuaca harian, BMKG sebelumnya memprediksikan bahwa fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027. Peluang puncak intensitas fenomena ini diprakirakan mencapai kategori kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa fenomena El Nino tersebut berpotensi muncul bersamaan dengan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada rentang September hingga Desember 2026.

Dia menegaskan bahwa informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang jauh lebih kering dari kondisi normal.

Guna merespons ancaman tersebut, pemerintah saat ini gencar mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengatasi ancaman kekeringan akibat El Nino.

Pelaksanaan OMC diprioritaskan pada daerah-daerah yang membutuhkan pasokan curah hujan lebih tinggi. Hal ini krusial untuk menjaga kelembapan lahan-lahan esensial, khususnya kawasan mineral dan gambut, serta memastikan pengisian cadangan air di berbagai waduk tetap terjaga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *