RISKS.ID – Lonjakan harga kebutuhan pokok di pasaran kian mencekik dapur rumah tangga. Paling parah, harga cabai rawit merah yang melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp 120.000 per kilogram (kg) membuat para ibu rumah tangga terpaksa memutar otak, bahkan harus merelakan menu favorit keluarga di meja makan.
Keluhan tersebut salah satunya dirasakan oleh Wati, seorang ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat, pada Selasa (11/8/2026). Ia mengaku syok melihat kenaikan harga bumbu dapur yang dinilainya sudah di luar batas wajar.
“Saya gak jadi bikin sambel gara-gara harga cabai mahal banget. Uang belanja yang dibawa pas-pasan, kalau dipaksain beli cabai nanti belanjaan yang lain gak kebagian,” ujar Wati dengan nada kecewa di Pasar Palmerah, Selasa (11/8/2026).
Jeritan Wati bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per Selasa (11/8/2026) pukul 08.30 WIB, kenaikan harga memang terjadi merata pada komoditas pangan utama di tingkat pedagang eceran.
Selain cabai rawit merah yang mencapai Rp 120.000 / kg, jenis cabai dan bumbu dapur lainnya juga melonjak tajam:
-
Cabai Merah Keriting: Rp 76.250 / kg
-
Cabai Merah Besar: Rp 73.750 / kg
-
Cabai Rawit Hijau: Rp 65.000 / kg
-
Bawang Merah: Rp 58.750 / kg
-
Bawang Putih: Rp 51.900 / kg
Beban masyarakat semakin berat karena harga sumber protein hewani seperti telur ayam ras merangkak naik ke Rp 37.500 / kg, daging ayam ras segar mencapai Rp 50.750 / kg, serta daging sapi kualitas I menembus Rp 143.750 / kg.
Rincian Harga Beras dan Minyak Goreng
Tak hanya bumbu dapur dan lauk-pauk, bahan pangan pokok harian masyarakat ikut terkerek naik:
-
Beras Kualitas Super I: Rp 19.450 / kg
-
Beras Kualitas Medium I: Rp 16.750 / kg
-
Beras Kualitas Bawah I: Rp 16.000 / kg
-
Gula Pasir Premium: Rp 24.900 / kg
-
Minyak Goreng Kemasan Bermerek I: Rp 27.500 / liter
-
Minyak Goreng Curah: Rp 20.000 / liter
Wati dan para konsumen lainnya berharap pemerintah serta pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengintervensi pasar dan menstabilkan pasokan pangan.
“Jika harga terus meroket, daya beli masyarakat kecil akan semakin tertekan untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” keluh Wati






