RISKS.ID – Pemerintah mulai membuka akses publik terhadap hasil penyusunan ulang narasi sejarah nasional. Peluncuran karya monumental bertajuk Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global ini merangkum perjalanan panjang bangsa dari era prasejarah hingga masa Reformasi. Sebanyak lima jilid awal dari total sepuluh jilid yang disiapkan kini sudah dapat dibaca serta diunduh secara bebas oleh masyarakat luas.
Penyusunan proyek yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan tersebut sempat memicu polemik sengit dari berbagai kalangan akademisi dan masyarakat sipil. Kekhawatiran mencuat terkait potensi hadirnya dominasi tafsir tunggal pemerintah dalam menyajikan peristiwa-peristiwa krusial masa lalu.
Kritik tajam salah satunya datang dari kalangan legislatif yang menyoroti sensitivitas penulisan ulang riwayat bangsa. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI-P, Mercy Chriesty Barends, mendesak pemerintah agar tidak mengabaikan catatan kelam pelanggaran HAM. “Kalau memilih-milih saja mana yang ditulis dan mana yang tidak ditulis, ada banyak kekelaman-kekelaman yang ada di bawah permukaan yang tidak bisa kami ungkapkan satu per satu,” tegas Mercy.
Kementerian Kebudayaan membantah tuduhan adanya intervensi politik dalam proses penulisan karya tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa penyusunan struktur buku telah melibatkan ratusan sejarawan profesional serta melalui mekanisme pengujian akademik yang ketat.
Meskipun menuai perdebatan sejak dimulainya wacana pada 2025, peluncuran buku ini tetap berjalan sebagai upaya menyatukan dokumentasi perjalanan Indonesia. Publik kini dapat menilai langsung objektivitas materi yang disajikan dalam jilid-jilid buku tersebut.






