RISKS.ID – PT Pupuk Indonesia (Persero) mengumumkan rencana strategis untuk membangun dan merevitalisasi delapan pabrik dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Langkah ekspansi ini diambil untuk memperbesar kapasitas industri nasional, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan kimia strategis.
Rencana besar tersebut ditopang oleh melonjaknya kinerja keuangan perusahaan sepanjang Semester I 2026.
Perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun, melesat 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, pendapatan tumbuh 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, sementara EBITDA naik 140 persen mencapai Rp14,28 triliun.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa perbaikan kinerja finansial ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas industri nasional dalam jangka panjang.
Transformasi bisnis yang dijalankan bersama Danantara Indonesia dinilai sukses memperkuat efisiensi operasional.
“Industrialisasi merupakan DNA Pupuk Indonesia sejak pembangunan Pabrik PUSRI pada 1959, dan transformasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutannya agar semakin efisien dalam operasional, tangguh, dan mampu menjawab kebutuhan pangan serta industri nasional dalam jangka panjang,” ujar Rahmad.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi strategis tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan reinvestasi.
“Transformasi yang kami jalankan bersama Danantara telah memperkuat kinerja dan daya saing Pupuk Indonesia, sekaligus memberikan ruang bagi kami untuk melakukan reinvestasi dan meneruskan estafet industrialisasi,” jelasnya.
Strategi ekspansi Pupuk Indonesia dibagi ke dalam dua pilar utama, yaitu memperkuat industri pupuk penopang ketahanan pangan dan memperluas hilirisasi gas bumi menjadi produk kimia bernilai tambah.
Proyek-proyek utama yang disiapkan mencakup revitalisasi Amurea Pusri IIIB, serta pengembangan Amurea Papua Barat, Amurea PIM III, dan Pabrik NPK Steam Granulasi Gresik.
Di sektor hilirisasi, Pupuk Indonesia merambah pengembangan Soda Ash di Bontang dan Gresik, serta proyek metanol di Lhokseumawe dan Bontang.
Perusahaan juga menyiapkan pembangunan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat serta fasilitas Amurea di Maluku guna menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.
“Industrialisasi harus mampu menumbuhkan industri baru, membuka lapangan kerja, memperkuat ekosistem nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis,” kata Rahmad.
Dari sisi penyaluran, sepanjang 2025 Pupuk Indonesia menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi, naik 10,68 persen berkat digitalisasi i-Pubers dan regulasi penyederhanaan distribusi.
“Bagi kami, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari kinerja keuangan atau seberapa banyak pupuk yang diproduksi, tetapi dari seberapa besar kontribusi Pupuk Indonesia dalam memastikan pupuk semakin mudah diakses petani, memperkuat industri nasional, dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan,” tutup Rahmad.






