RISKS.ID – Industri hiburan digital kembali bergejolak setelah raksasa layanan streaming Netflix resmi mengumumkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 1.000 pekerja.
Langkah efisiensi yang mencakup enam persen dari total tenaga kerja global ini menjadi efisiensi terbesar perusahaan dalam empat tahun terakhir.
Langkah rasionalisasi ini menyasar sejumlah divisi krusial, di antaranya tim pengembangan produk, teknologi, hukum, hingga manajemen sumber daya manusia (human resources).
Keputusan pahit tersebut disampaikan langsung oleh jajaran pimpinan melalui surat elektronik internal kepada seluruh staf pada Rabu (14/10/2026).
Manajemen menegaskan bahwa penataan ulang struktur organisasi perlu dilakukan agar alokasi sumber daya perusahaan sejalan dengan fokus bisnis jangka panjang.
Dalam memo bersama tersebut, Co-CEO Netflix Greg Peters dan Ted Sarandos menyoroti dinamika industri yang menuntut disiplin tinggi dari para pelaku bisnis streaming.
“Misi kita, menghibur dunia, sangat ambisius, dan untuk mewujudkannya kita harus disiplin dalam menentukan prioritas orang dan sumber daya kita,” tegas Greg Peters dan Ted Sarandos dalam pesan tertulisnya.
Meski harus merumahkan sebagian karyawannya, pihak Netflix memastikan fundamental keuangan perusahaan masih berada dalam kondisi yang sehat.
Target pendapatan tahunan pun diklaim tetap berada di jalur yang sesuai perkiraan.
Di pasar saham, pengumuman ini direspons relatif tenang oleh para investor.
Harga saham Netflix sempat merangkak naik 0,7 persen tidak lama setelah pesan internal tersebut beredar.
Kendati demikian, sepanjang tahun 2026, nilai saham platform asal Amerika Serikat ini secara kumulatif telah terkoreksi sekitar 25 persen.
Tekanan utama bagi Netflix saat ini bukan lagi sekadar mencari pelanggan baru, melainkan mempertahankan tingkat keterlibatan (engagement) pengguna.
Platform media sosial dan video gratis seperti YouTube serta TikTok kian agresif merebut durasi tonton masyarakat.
Di sisi lain, ekspansi bisnis melalui fitur siaran langsung olahraga, iklan, dan layanan gim belum menunjukkan kontribusi finansial yang signifikan bagi pembukuan perusahaan.
“Netflix belum menemukan jalur pendapatan utama yang baru. Mereka masih bergantung pada langganan yang kian mendekati batas jenuh,” ujar Analis Senior eMarketer, Ross Benes.
Kondisi ini makin diperberat oleh batalnya rencana akuisisi aset Warner Bros Discovery serta menguatnya lanskap persaingan setelah penggabungan Paramount dan Skydance pada awal Oktober 2026.
Fenomena PHK di ranah teknologi ini mempertegas tren global, di mana para pemain utama harus meredam biaya operasional dan investasi teknologi tinggi demi menjaga profitabilitas bisnis.






