Kisah Ibu Bakar Hidup-Hidup Anak Kandung di Sumbawa: Dipicu Hal sangat Sepele

bakar diri
Ilustrasi. Foto: Shutterstock

RISKS.ID  – Matahari sedang terik-teriknya ketika jerit minta tolong memecah keheningan Desa Sepakat, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (22/2/2026).

Di sebuah rumah sederhana tempat keluarga petani bawang merah itu tinggal, peristiwa memilukan terjadi, sebuah pertengkaran singkat berujung tragedi yang merenggut nyawa seorang anak.

Bacaan Lainnya

MI (25) siang itu sedang tertidur di kasur yang berada di bagian belakang rumah. Seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas keluarga mereka tak jauh dari ladang dan ternak. Sang ibu, Sa’adiah (49), membangunkannya.

Dia meminta MI mencari rumput untuk pakan sapi. Permintaan yang terdengar biasa dalam kehidupan keluarga petani, namun siang itu berubah menjadi awal petaka.

MI menolak. Entah karena lelah atau alasan lain, penolakan itu memicu cekcok antara ibu dan anak. Emosi yang memuncak dalam hitungan menit mengaburkan nalar.

Menurut keterangan aparat, dalam kondisi tersulut amarah, Sa’adiah mengambil sebotol Pertalite yang dijual di rumah mereka. Bahan bakar itu disiramkan ke tubuh MI yang baru saja terbangun. Api kemudian menyambar, membakar sekujur tubuhnya.

Di tengah kobaran api, MI masih berusaha menyelamatkan diri. Dia mencoba membersihkan tubuhnya dari cairan yang mudah terbakar itu. Dengan suara yang mulai melemah, dia berteriak meminta tolong kepada adiknya, Iksan, agar membantu memadamkan api dengan air.

Jeritan itu menjadi saksi betapa dalam kepanikan dan rasa sakit yang tak terperikan.

Warga sekitar dan aparat yang mendapat laporan segera datang ke lokasi. MI dilarikan ke Puskesmas Plampang untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Manambai Abdulkadir (RSMA) Sumbawa.

Luka bakar serius yang dideritanya terlalu parah. Nyawanya tak tertolong.

Sementara itu, setelah kejadian, Sa’adiah dilaporkan histeris. Tak lama kemudian dia pingsan dan turut dibawa ke puskesmas dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Camat Plampang, Sudarli, membenarkan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 Wita. Kepolisian menyatakan kasus ini akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dugaan sementara, tindakan tersebut dipicu oleh emosi sesaat karena permintaan mencari rumput yang tidak dipenuhi.

MI dan ibunya diketahui berasal dari Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Mereka merantau dan menetap di Plampang sebagai petani bawang merah, menggantungkan hidup dari tanah dan ternak.

Kini, rumah itu tak lagi sekadar tempat berteduh. Ia menjadi ruang sunyi yang menyimpan kisah getir tentang amarah yang tak terkendali, tentang hubungan darah yang terputus oleh satu keputusan fatal.

Di Desa Sepakat, siang itu akan selalu dikenang, bukan karena teriknya matahari, melainkan karena satu keluarga yang tak lagi sama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *