RISKS.ID – Setiap tanggal 11 April, dunia memperingati Hari Parkinson Sedunia sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit Parkinson. Peringatan ini juga menjadi ajang untuk mengedukasi publik mengenai gejala, penanganan, serta pentingnya dukungan terhadap para penderita.
Tanggal tersebut dipilih untuk menghormati Dr. James Parkinson, seorang dokter asal Inggris yang pertama kali mengidentifikasi penyakit ini. Melalui karyanya berjudul An Essay on the Shaking Palsy pada tahun 1817, ia menjelaskan gejala khas berupa tremor, kekakuan otot, dan gangguan gerakan.
Dalam penelitiannya, Parkinson juga mencatat perubahan postur tubuh pada penderita, seperti kecenderungan membungkuk ke depan serta langkah kaki yang semakin cepat tanpa disadari. Ia bahkan mengamati adanya penurunan kemampuan motorik yang berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Beberapa dekade setelah penemuannya, tepatnya pada tahun 1870-an, penyakit ini resmi dinamai “Penyakit Parkinson”. Penamaan tersebut diberikan oleh ahli saraf asal Prancis, Jean-Martin Charcot, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besar James Parkinson dalam dunia medis.
Hari Parkinson Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1997 melalui kerja sama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan European Parkinson’s Disease Association (EPDA). Sejak saat itu, peringatan ini terus berkembang menjadi kampanye global yang melibatkan berbagai organisasi kesehatan.
Tujuan utama dari peringatan ini adalah mendorong penelitian lebih lanjut serta meningkatkan akses informasi bagi masyarakat. Edukasi yang tepat diharapkan dapat membantu deteksi dini serta memperlambat perkembangan penyakit melalui penanganan yang sesuai.
Salah satu simbol yang identik dengan Parkinson adalah tulip merah. Simbol ini diresmikan dalam konferensi internasional dan memiliki makna mendalam, yakni harapan serta perjuangan melawan penyakit yang bersifat degeneratif ini.
Di balik simbol tersebut, terdapat kisah inspiratif dari J.W.S. Van der Wereld, seorang ahli hortikultura asal Belanda yang juga penderita Parkinson. Ia berhasil mengembangkan varietas tulip khusus sebagai bentuk dedikasi dan harapan bagi para penderita di seluruh dunia.
Hari Parkinson Sedunia menjadi pengingat bahwa kolaborasi global sangat diperlukan untuk menghadapi penyakit ini. Dengan kesadaran yang terus meningkat, diharapkan akan muncul lebih banyak dukungan, inovasi, dan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas hidup para penderita Parkinson.






