RISKS.ID – PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menargetkan pertumbuhan pembiayaan sektor small medium enterprise (SME) pada 2026 mencapai kisaran 30 persen secara tahunan (year on year/yoy). Target tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian pembiayaan SME perseroan sepanjang 2025.
Berdasarkan data per Desember 2025, outstanding pembiayaan SME Bank Muamalat tercatat sebesar Rp2,9 triliun atau tumbuh 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Bank Muamalat Indonesia Ricky Rikardo Mulyadi menyampaikan optimisme bahwa target tersebut dapat tercapai melalui sejumlah strategi bisnis yang telah disiapkan perseroan.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (12/5), Ricky mengatakan Bank Muamalat akan fokus menggarap target pasar pada ekosistem pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.
Selain itu, perseroan juga mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan jaringan usaha yang dimiliki. Langkah tersebut diyakini mampu menghadirkan inovasi sekaligus meningkatkan produktivitas pembiayaan.
“Aspek digitalisasi juga terus kami kembangkan untuk menciptakan efektivitas dan kecepatan proses pembiayaan,” ujar Ricky.
Menurut dia, pengembangan pembiayaan segmen SME tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, syariah, dan humanis sebagai fondasi utama bisnis perseroan.
Ricky menilai sektor SME masih sangat prospektif karena memiliki peran penting sebagai penopang stabilitas ekonomi nasional. Selain itu, sektor tersebut juga dinilai memiliki penyebaran risiko yang cukup baik.
“Untuk itu, Bank Muamalat terus berupaya memperluas jangkauan pembiayaan SME ke nasabah. Salah satunya dengan mengoptimalkan jaringan kantor yang dimiliki dan digitalisasi untuk kecepatan proses pembiayaan,” katanya.
Saat ini, Bank Muamalat memiliki 224 kantor cabang, termasuk satu kantor cabang di Kuala Lumpur, Malaysia. Jaringan tersebut menjadi salah satu kekuatan perseroan dalam memperluas akses pembiayaan ke berbagai daerah.
Tidak hanya mengandalkan jaringan kantor, perseroan juga menyiapkan produk pembiayaan syariah yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Digitalisasi proses pembiayaan pun menjadi perhatian serius guna meningkatkan aksesibilitas masyarakat, terutama di wilayah yang belum terjangkau layanan kantor cabang.
“Kami turut memberikan margin yang kompetitif untuk memastikan keberlangsungan usaha di tengah persaingan pasar,” tutur Ricky.
Dari sisi kualitas aset, Bank Muamalat memastikan tetap menjaga rasio non-performing financing (NPF) sesuai ketentuan regulator. Hingga akhir 2025, rasio NPF sektor SME tercatat hanya sebesar 0,07 persen.
Perseroan menegaskan tetap fokus menjaga kualitas portofolio pembiayaan agar tetap sehat dan sesuai dengan risk appetite yang dapat diterima, khususnya pada sektor pendidikan, haji dan umrah, serta kesehatan.






